Kamis, 21 April 2016

Melati: Behind The Scene

Terinspirasi dari tokoh-tokoh nyata dan imajiner yang menjadi nyata.

Menantikan episode selanjutnya dari Melati, hope so...

Sabtu, 16 April 2016

Melati (1/2)

Dibuat 15 Desember 2009 dalam rangka lomba cerpen...

Sebuah bus pergi meninggalkan Terminal Bus Seloaji Ponorogo menuju Surabaya, di dalamnya seorang pemuda dua puluh tahunan duduk menulis di agenda hariannya.

Sebuah suara berkata padaku,  "Kak, jangan pergi dari sini, ya!"

Angin sore berhembus pelan membelai wajahku, bercampur semerbak wangi bunga melati menjadi bius bagiku, menghilangkan kesadaran bahwasanya aku, selama tiga puluh menit ini, hanya bisa diam, berdiri mematung menyaksikan permintaan gadis delapan belas tahun bersuara lembut sumber wangi melati itu berasal…

Tangannya berhenti menulis, pandangannya melihat keluar jendela. Kini ingatannya kembali ke satu bulan yang lalu, di mana dia baru saja menyelesaikan sekolahnya di Pondok Pesantren Darul Mukhlisin Ponorogo. Saat itu, dia berdiri di depan kamar menatap bangunan bertingkat dua sekitar seratus meter dari kamarnya. Muncul teman seangkatannya dari arah belakang.

“Jadi kamu tidak akan tinggal di sini?"

"Memangnya apa yang bisa aku kerjakan kalau aku tinggal di sini?"

"Ya membantu mengajar adik-adik kelasmu. Sayang lho, tidak banyak orang sepintar kamu, pasti bermanfaat bagi perkembangan pendidikan di pesantren ini."

"Kamu terlalu berlebihan, aku tidak ada apa-apanya di banding para pengajar di sini, kamu sendiri mau meneruskan ke mana?"

“Saya meneruskan di sini saja, mengajar para santri sambil kuliah, kan banyak universitas Islam yang bagus di sini, seperti di Gontor."

"Kalau begitu, semoga berhasil saja, dan semoga dapat jodoh juga di sini."

"Ah kamu bisa saja. Ngomong-ngomong dari tadi kayaknya kamu melihat gedung itu terus, lagi nyari calon istri juga, ya?" sembari mengarahkan pandangan ke gedung bertingkat dua itu. Gedung dengan panjang lima puluh meter yang setiap tingkatnya terdapat lima kamar berkapasitas sepuluh orang.
   
Zeid mengangkat tangan kanannya yang menggenggam selembar kertas terlipat berwarna putih.

“Aku dapat surat, dari sana”. matanya kembali melihat bangunan bertingkat itu. Di kamar paling kanan di tingkat kedua, berdiri samar di balik jendela seorang gadis menutupi sebagian mukanya dengan kain gorden. Hasan tidak mengetahuinya.

"Benarkah, wah kamu populer juga," canda Hasan.

Zeid tidak peduli, "Kamu tahu yang namanya Melati?"

“Sebentar, pikirnya sesaat, Ah kalau tidak salah, itu santriwati seangkatan kita. Kok kamu tidak tahu?"

“Memangnya wajib tahu nama mereka, sudah ah, aku mau beres-beres dulu."

“Bisa lihat isi suratnya?

“Nih, buat kamu saja, aku tidak butuh”. Begitu saja Zeid memberikan surat itu padanya, sesuatu yang membuat Hasan keheranan.

"Kamu ga’ butuh? ini surat cinta, kan?"

Zeid tidak menyahut, dengan langkah santai, cuek, dan tanpa beban, dia masuk kamar.

"Zeid, kapan kamu pergi?" Tanya Hasan mengikutinya.

“Bulan depan," Zeid mulai merapikan buku-bukunya, kemudian ia masukkan kedalam kardus.
Sambil berjalan masuk kamar, Hasan membuka surat itu, wangi bunga melati menyeruak dari dalam lipatan.

Teruntuk Kak Zeid Al-Faarih

Assalamualaikum 
Maaf sebelumnya telah mengganggu Kakak, tapi sungguh hati ini begitu risau memikirkan suatu masalah yang tak kunjung terpecahkan, semoga Kakak mau menjawab pertanyaan Adik seimanmu ini.
Menurut Kakak, mencintai karena Allah itu seperti apa?

Wassalamualaikum

Melati 
08577889966

“Nomornya agak unik, tapi masa cuman segini, pembukanya panjang, isinya sedikit”, tanya Hasan kembali di dalam kamar.

"Iya, aku juga ga ngerti, kamu ngerti?"

"Masa sih, kamu kan paling pintar?"

"Tapi tidak semua pertanyaan bisa aku jawab, paling tentang pelajaran di kelas. Menurut kamu bagaimana?" Dia tetap sibuk membereskan bukunya.

Dengan menghirup nafas dalam-dalam, Hasan berlagak sok pintar, "Payah kamu ini, kamu tahu?" tanyanya secara klise, pertanyaan yang tidak butuh jawaban, "Ini adalah surat seorang gadis yang sedang jatuh cinta."

"Alah  teori, jangan ngelantur. Tetap bermuka tidak tertarik."

"Kamu tahu, ini cuma pertanyaan pancingan dari maksud tersembunyi, She is loving you! Cinta santriwati itu berbeda dengan cinta anak-anak ABG di sekolah umum. Cinta suci yang dipenuhi rasa malu, dan penuh daya tarik, Zeid!"

"Gombal! maksudmu surat  itu seperti udang dibalik karang?"

"Aih kamu ini dingin sekali! yang dilihatnya cuma buku terus. Teleponlah dia!" bujuknya bersemangat.

“Buat apa? Kamu saja yang telepon dia”.

"Zeid, cinta ini untukmu, bukan untukku, Rezeki emas menanti di depanmu, kamu tidak tahu Melati?"

"Enggak, namanya saja kuno, Jadul!" jawabnya cepat.

"Masya Allah, kejam sekali kamu berkata demikian, dont judge something from its cover!”

"Sudah, sudah! Kamu itu anak pesantren atau anak sekolahan umum? Dari tadi ngomongnya pake istilah Inggris terus."
Hasan menata sikap, kali ini dia lebih bertampang sok dewasa,

"Wahai Zeid Al-Farih, Jika kamu tahu siapa sebenarnya perempuan bernama Melati, kamu pasti tertarik. Dia itu paling cantik di angkatan kita!"

"Tapi bodoh, kan?" potong Zeid.

"Kamu tahu darimana?
Buktinya, dia ngirim surat seperti itu, kalau dia pintar, dia tidak akan berani mengirim surat ke yang bukan mahram-nya. Bukankah kamu tahu kaidah fikih 'Maa aada ilal harom hukmuhu haram', sesuatu yang mendekati perkara haram maka hukumnya haram?"

"Lho, apa hubungannya dengan masalah ini?”

"Bukankah pacaran itu mendekati zina? Sedangkan mendekati Zina itu haram, maka pacaran itu haram, aku tidak mau pacaran dengannya!”

"Lha siapa yang menyuruh kamu pacaran?"

"Kamu! Yang nyuruh menelepon dia.
Kan cuman ngobrol, apa salahnya?"

“Sesuatu itu walaupun bagus perbuatannya tetapi jika dilakukan dengan niat yang salah, maka bukan dapat berkah, tapi fitnah! Kalau memang perempuan itu suka denganku, maka obrolan baik ketika nelpon pun malah menjadi dosa karena perasaan sukanya itu."

"Ah kamu itu terlalu kaku!" Sambil memikirkan jawaban lain, agak berat juga berdebat dengan orang pintar tapi kaku seperti dia, "Tapi kamu bisa menasihatinya agar melupakanmu," lanjutnya, “Nanti aku bisa mendekatinya”, senyumnya menyeringai seperti serigala kelaparan.

“Ternyata yang punya maksud udang dibalik batu itu kamu! Enam tahun ngaji tapi sifatmu tidak berubah masih doyan perempuan dari cantiknya saja."

"Tapi sekarang beda, aku mendekatinya untuk kujadikan pasangan hidup yang halal. Ah bahagianya kalau..."

"Sudah-sudah, bosan aku mendengar hal seperti itu, aku pergi saja dari sini!" potong Zeid, dia bergegas keluar kamar, mencari udara segar.

***

"Zeid! Bangung Zeid, solat tahajud!" Suara Hasan agak keras mencoba membangungkan Zeid.

Zeid bangun, "Hoah, eh tumben kamu bangunin aku, memang sekarang jam berapa?"

"Jam dua."

"Heh biasanya kamu bangun jam lima, aneh."

"Bukan begitu, dari tadi suara HP kamu berbunyi terus."

"Tapi alarmnya aku pasang jam tiga." Zeid mengucek matanya, melihat handphone di sisinya, ada tiga kali panggilan tak terjawab dan satu SMS masuk.

Allah berfirman, Dan bertahajudlah kamu pada sebagian malam sebagai ibadah tambahan bagimu, semoga Tuhanmu mengangkatmu pada kedudukan yang terpuji.
Selamat menunaikan sholat tahajud, Melati

"Ko, dia bisa tahu nomorku?"

"Siapa? Melati, ya? Ciee kamu ini benar-benar terkenal, Zeid!"

"Alaah, lebih baik aku tidur lagi!" dengan cepat Zeid menyambar selimut menutup kepalanya.

"Zeid, tahajud dulu! Kenapa kamu jadi malas begini?"

Hasan melihat handphone yang diletakkan di samping kepala Zeid, membaca sekilas, "Loh apa salahnya dengan SMS ini? Cuma mengajak kamu solat tahajud, suatu ibadah juga, kan?"

Zeid membuka selimutnya, "Kamu tahu, selama dakwah itu hanya dilakukan karena perasaan tertentu, maka tidak akan bernilai apa-apa, jika memang dia berniat mengajak melakukan kebaikan seperti solat tahajud, kenapa hanya aku saja yang diajak, apakah dia juga mengirim SMS dan meneleponmu juga? Aku rasa tidak. Lagipula, kalau aku solat tahajud sekarang, yang kupikirkan nanti hanya perempuan bernama Melati!" kembali selimut ditutupkan kekepalanya.

Hasan tidak habis berpikir, memang logikanya benar, tapi dia belum bisa menerima kesimpulan terakhir Zeid untuk tidak solat tahajud. Dia tetap menanggap Zeid seorang yang kaku memandang wanita.

Hasan tidak tidur, tapi juga tidak shalat tahajud, memikirkan kekeraskepalaan Zeid hingga jam tiga shubuh dimana alarm handphone Zeid berbunyi, seketika itu juga Zeid bangun, Hasan pura-pura tidur, Zeid pergi mengambil wudlu, lalu solat tahajud dua rakaat dan witir tiga rakaat sebagaimana yang biasa dilakukannya setiap malam. 

Setelah berdoa, Hasan bangun mendekati Zeid.

"Zeid, jika kupikir, kamu pasti melakukan ini semua karena sengaja, maksudku melihat pengalamanmu yang pernah sekolah di SMA umum, adalah aneh kamu tidak seperti pemuda biasanya yang suka pacaran, boleh aku tahu?"

Zeid tersenyum, "Apa yang kamu ingin tahu?"

"Alasan kamu bertindak dingin seperti itu terhadap Melati."

"Sedikit aja, ya? Aku ngantuk," jelasnya perlahan, kini sikapnya tenang.

"Aku, malas menghadapi wanita, bagiku mereka adalah masalah, bukan berarti aku menghina wanita, tetapi bagi pelajar sepertiku, hanya membuat masalah baru yang mengganggu konsentrasi belajar, karena sebelumnya aku pun sama seperti pemuda SMA umumnya, gaul, punya pacar."

"Hah, kamu? Punya pacar? Ah, masa sih?"

"Dengarkan dulu! Setelah itu, aku sadar ketika masuk pesantren ini bahwa kelakuanku yang dulu sudah melewati batas syariat. Aku ingin berubah, walaupun sedikit, aku tidak menganggap diriku religius, bahkan aku realistis, aku tidak mau tinggal disini, karena kamu sendiri tahu mengajar disini tidak digaji, Aku akan mencari kerja di Surabaya, sekaligus melamar gadis yang sangat kukenal disana sebagai istriku, itupun kalau dia mau, dan belum ada yang melamar, karena sudah tiga tahun aku tidak bertemu dengannya."

"Tunggu dulu, kamu hendak melamar gadis yang tidak jelas statusnya, darimana kamu tahu dia suka kamu?”

“Feeling, kami pernah berteman, sangat dekat, ketika aku sekolah SMP disana. Sehingga aku tahu bagaimana perasaannya padaku walupun dia tidak pernah mengungkapkannya.”

"Lalu bagaimana dengan Melati, hati perempuan itu lemah, Zeid!"

"Aku tahu itu, biarlah Allah yang menentukan kisah akhirnya, jika Melati yang menjadi jodohku, aku terima, aku pun tidak meragukan bahwa Melati punya daya tarik yang berbeda diantara gadis seusianya. Siapa yang tidak suka melihat gadis seperti dia, tapi aku tidak mau menjadikan rasa suka ini diteruskan dengan perbuatan yang dibenci agama. Kamu paham?"

Hasan mengangguk sedikit, Zeid langsung merobohkan badannya, melanjutkan tidur hingga tiba waktu shalat shubuh, dan Hasan hanya terpekur diam merenungkan semua itu.

***

"Kamu yakin pergi sekarang?" Tanya Hasan sambil membawa tas Zeid ke luar gerbang pesantren.

"Ya, aku sudah minta izin bapak kyai."

"Jangan lupa berkunjung kesini kalau sudah sukses."

"Insya Allah."

Baru saja satu langkah melewati gerbang, dua perempuan berjilbab dari dalam pondok berjalan tergesa-gesa menghampiri mereka berdua. Salah seorangnya Melati.

"Assalamualaikum, kak." Sahut perempuan paling depan memanggil Hasan.

"Waalaikum salam, ada apa, dik? Oh ya, Zeid, ini Annisa adikku, seangkatan dengan kita." Hasan tersenyum malu, dia pernah tidak naik kelas satu tahun sehingga lulus berbarengan dengan adiknya yang umurnya berbeda satu tahun.

Annisa menarik tangan kakaknya, membisikkan sesuatu yang sedikit serius. Setelah itu, Hasan memandang Zeid, "Zeid," katanya sopan, "Melati ingin bicara denganmu, disini, ujarnya pelan Sebentar saja."

Zeid grogi, "Kalau begitu, kamu ke depan duluan, sekalian cari bis yang ke terminal, Tapi Annisa tetap disini, supaya tidak ada fitnah." Jawab Zeid agak canggung, tapi tetap dengan wajah tanpa emosi.

Hasan pergi membawa tas Zeid, kini hanya tinggal mereka bertiga berdiri di depan gerbang pondok. Zeid mengamati Melati secara seksama, Annisa mundur kebelakang.

"Kamu sakit?" Tanya Zeid melihat mata Melati yang cekung dan wajahnya yang pucat, Melati mengangguk.

"Memikirkan aku?" tanyanya narsis tapi penuh pengamatan, dan Melati kembali mengangguk.

"Kak, jangan pergi dari sini, ya!" Pinta Melati.

Dan kini, Zeid terdiam, hatinya bergeming, tapi pikirannya tetap jalan, jika dia memutuskan untuk tetap tinggal karena permintaan seorang wanita, maka apa yang dilakukannya di pesantren nanti tidak akan bernilai pahala. Zeid hanya ingin tinggal dan mengajar karena Allah, bukan karena permintaan wanita.  

"Begitu dalamkah perasaanmu padaku?"

"Ya!" ungkap Melati tegas, kini buliran-buliran air mata mengalir di pipinya.

Zeid menunduk, dalam hatinya dia berteriak, "Ya Allah! Sesungguhnya aku lemah terhadap wanita, bagaimaku mungkin aku menolak permintaan seorang perempuan yang menangis?" Kembali dia memandang Melati.

“Bukankah jodoh ditangan Allah?”

“Tapi kita juga harus berikhtiar?"

"Ya, ikhtiar dengan tidak menyakiti diri sendiri, tidak berlebihan. Jika memang kita berjodoh, kita akan bertemu lagi."

"Melati takut, Melati belum siap menerima perpisahan ini, bagaimana jika Kakak bukan jodoh Melati?"

"Berarti Allah mempunyai pengganti yang lebih baik untuk Melati."

“Tapi Melati hanya ingin Kakak yang terakhir, untuk selamanya," derai air mata tidak bisa ditahan lagi, Annisa memeluk Melati yang kini terisak-isak menangis.

"Berdoalah kepada Allah, serahkan segala urusan hanya kepada-Nya, karena sesungguhnya Ia Maha Mengetahui urusan hamba-Nya.
Annisa, jaga baik-baik Melati, wassalamualaikum."

***

Zeid, menatap jauh ke luar jendela bis jurusan Ponorogo-Surabaya itu, hingga seorang penumpang yang duduk di sebelahnya mengalihkan perhatiannya.

"Mas, mau makanan?" orang itu menawarkan kripik singkong.

“Oh, tidak, terima kasih.
Anda dari pesantren, ya?" tebak penumpang itu.

"Iya, kok bapak tahu?"

“Saya juga dulu mesantren di salah satu pesantren di Ponorogo. Jadi tahu mana anak peantren atau bukan."

"Caranya?" Tanya Zeid penasaran.

"Dari air mukanya yang selalu bercahaya, berbeda dengan anak sekolah umum."

"Oh begitu tapi kok bisa seperti itu?”

"Yang pastinya saya tidak tahu, mungkin karena anak pesantren sering membasuh wajahnya dengan air wudlu, makanya bercahaya," jelasnya.

Mereka berdua mengobrol, bertukar informasi mengenai keadaan pesantren mereka masing-masing.
"Setelah saya berkerja di Surabaya, saya baru sadar bahwa apa yang dilakukan para guru-guru saya yang mengajari santrinya dengan ikhlas tanpa upah sepeserpun, adalah lebih baik dari berkerja hanya mengharap gaji dari atasannya”, kata bapak itu.

“Tapi darimana mereka mendapatkan sumber penghidupannya?"
 
“Janji Allah yang akan memberi rizki kepada orang yang berjuang di jalan-Nya dari jalan yang tidak disangka-sangka, memang hidup guru-guru saya di pesantren tidak mewah, tapi penuh berkah, begitu damai. Dulu pesantren saya masih sederhana, kini setelah dua puluh tahunan, pesantren itu telah berubah berkembang pesat, asetnya tidak terhitung, sangat jauh sekali hasil yang didapatkan dibandingkan dengan saya yang berkerja mati-matian menghidupi anak-istri. Saya sadar Kyai saya berkerja kepada Allah, sedangkan saya sendiri berkerja untuk manusia, Beliau pegawainya Allah yang Maha Kaya, sedangkan saya hanyalah pegawai makhluk-Nya yang miskin. Jika mengingat itu, ingin sekali saya kembali ke pesantren dan mengajar disana bersama guru-guru lain." Kenangnya.

Zeid terdiam, mencerna seluruh perkataan bapak itu. 

***

Satu bulan berlalu, kondisi Melati di pesantren tidak kunjung membaik, setelah Zeid meninggalkannya di gerbang, melati pingsan. Kini ia dirawat di balai kesehatan milik pesantren, orang tuanya pun datang menengok.

Di luar gedung balai kesehatan, Hasan mengobrol dengan adiknya. "Orang tuanya sudah tahu?" Tanya Hasan.

"Sudah, kak. Kasihan Melati, cinta ternyata bisa membuat seseorang begitu menderita.

"Kakak jadi ingat Maria di novel Ayat-Ayat Cinta," timpal Hasan.

"Tapi, itu kan di novel, tidak nyata!" sergah Annisa.

"Apa bedanya? kamu tahu Leo Tolstoy, Nis?" lanjut Hasan.

"Siapa, kak?"

"Penulis terkenal, dia berpisah dengan istri tercintanya, Sophia. Diakhir hayatnya, dia sangat menderita dan selalu menanyakan keberadaan istrinya, tapi Anak-anaknya tidak memberitahu dimana Ibunya. Ironisnya, Sophia tinggal di depan rumah mereka dengan merasakan penderitaan yang sama, sangat merindukan suaminya."

"Kenapa anak-anaknya tidak memberi tahu dia?"

"Kakak tidak tahu Nis, hanya saja, hingga ajal menjemputnya, penulis itu tidak pernah bertemu istrinya”.

***

"Akhir yang tragis, ya?”

Hasan dan Annisa terkejut, suara itu berasal dari Zeid Al-Farih yang berdiri didepan mereka, tetap dengan wajah tanpa emosinya.

"Ka.. kamu kembali, Zeid?" memandang tidak percaya. 

Zeid memeluk Hasan, "Aku cari-cari kamu, kata bapak Pimpinan kamu menjaga Melati disini bersama adikmu."

"Kenapa kamu kembali, Zeid?" Hasan kembali bertanya.

"Setelah kupikir-pikir, aku ingin menjadi Pegawai Allah daripada menjadi pegawai manusia, maka aku ingin melamar kerja di salah satu kantor-Nya, di pesantren ini," senyum Zeid.

Senang sekali Hasan mendengarnya, begitu juga Annisa. Zeid masuk ke balai kesehatan, melihat keadaan Melati yang tidur. Zeid menemui orang tuanya, mereka berdiskusi mengenai keadaan Melati, juga mengenai hal-hal lainnya.

Setengah jam kemudian, Melati bangun, tersentak melihat Zeid di sampingnya. Zeid yang masih berbicara dengan ayah Melati bertanya, "Benarkah, Pak?"

"Ya, silahkan."

Zeid menatap Melati, "Kamu baik-baik saja?"

Melati diam, menangis, air matanya mengalir membasahi bantal, perasaanya campur aduk, bahagia melihat Zeid di sampingnya, tapi tetap ragu apakah Zeid akan meninggalkannya lagi.

"Melati, maukah kamu menikah denganku?"

***

Rabu, 13 Januari 2016

Hukum Meme

[9/1 9.22 PM]
Nah, menarik utk dbahas: Ma hukmu Meme?
Adakah bahtsul masail tntng penggunaan foto org lain tanpa ijin utk guyon? 😁

[9/1 9.40 PM]
A. Mubahkah? (Krn canda itu wajar slama tdk berlebihan)
B. Ghibahkah? (Krn membicarakn foto seseorg yg seandainya ia tahu mungkin tdk ridho)
C. Fitnahkah? (Krn mengkaitkan kata2 kpd seseorng yg tdk pernah mengucapkannya? Walau hal sepele)
Sperti kata nabi ghibah itu membicarakan sesuatu hal dlm diri temanmu yg tdk dsukainya dam fitnah adlh jika hal yg dibicarakan itu trnyata tdk benar. 😊
????

Copas from grup WA

Rabu, 06 Januari 2016

Melati (2-End)

Tiga hari sebelum Zeid pergi, aku menemuinya, sedikit bertukar pikiran tentang sebab kepergiannya.

‘Sebetulnya, apa yang menyebabkanmu begitu ingin pergi dari pondok ini?’

‘Bukankah sudah kubilang…’

‘Aku tahu itu!’ potongku, ‘Tapi bukankah dulu ketika masih menjadi santri kamu adalah anak yang paling ingin meneruskan perjuangan guru-guru kita, kamu yang paling bercita-cita menjadi ustadz di pondok ini!’ nadaku meninggi, aku menata sikap, kuhirup napas dalam-dalam, menghembuskannya.

‘Wanita.’ Zeid berkata. ‘Hatiku lemah, gampang sekali terpedaya oleh kaum hawa ini. Jika saja gadis itu tidak muncul di kehidupanku sejak kelas enam, sudah bisa dipastikan aku akan tinggal di sini. Jika saja dia tidak meniupkan aroma cinta ke dalam hatiku, tentu perhatianku tetap tertuju untuk pondok ini, mengajari anak-anak karena cinta kepada-Nya, bukan cinta kepada gadis itu! Jika saja dia tidak memintaku untuk tetap tinggal di sini setelah lulus, dengan senang hati aku akan tinggal dengan niat memenuhi seruan Allah untuk menolong agama-Nya, bukan karena permintaan gadis yang hanya didasari rasa cinta semu belaka!’

‘Kami akan sangat kehilanganmu, Zeid.’ Kecewaku padanya.

‘Tidak usah bersedih, walaupun aku telah pergi, hatiku tetap disini, di pondok ini.’

‘Tapi apakah kelakuanmu akan seperti di pondok ini?’ Tanyaku tajam.

‘Maksudmu?’

‘Apakah kamu bisa menjamin cara bergaulmu tetap sama seperti di pondok ini? Surabaya kota yang metropolis, Zeid! Bukan tidak mungkin kamu akan terpengaruh dengan gemerlapnya budaya kota. Apalagi wanita-wanita di sana, pergaulan mereka lebih bebas daripada disini.’

‘Aku akan mencobanya.’

‘Itu hanya spekulasi! Apa yang kau lakukan hanya lari dari masalah!’

‘Aku tidak lari, aku hanya menghindari fitnah.’ Tukasnya.

‘Ya, dari fitnah kecil ke fitnah yang lebih besar! Sadarlah, Zeid! Masalahmu di sini, bukan di luar sana, dan satu-satunya cara menyelesaikannya adalah dengan menghadapi masalah itu! Jika kamu hanya lari, maka masalah itu akan megikutimu ke mana pun kamu pergi. Percayalah, di sini masalahmu adalah wanita, maka disana pun kamu akan mempunyai masalah yang sama.’

‘Kamu terlalu mendoakanku dengan hal yang jelek.’

‘Ini bukan doa, ini kenyataan.’

‘Sudahlah, Drie. Aku yakin dengan apa yang akan kulakukan. Jika aku tetap tinggal disini, mungkin aku akan menjalin hubungan yang terlarang dengan gadis itu. Buat apa aku menjadi ustadz yang mempunyai ilmu segudang, tetapi dibelakangnya malah pacaran dengan seorang ustadzah, bukankah dosa yang dilakukan orang yang tahu hukumnya lebih berat daripada orang yang tidak tahu? Lebih baik aku menjadi seorang Zeid yang biasa-biasa saja.’

‘Aku tidak melihat perkatanmu sebagai sebuah kebenaran, ini hanyalah dalih seorang keras kepala yang melakukan tindakan defensif atas apa yang dilakukannya.’

‘Terserah kamulah, Drie. Memangnya apa yang harus kulakukan untuk menghadapi masalah ini.’

‘Payah kamu, Zeid. Tegaslah sedikit. Katakan padanya kamu tidak mau berhubungan dengannya.’

‘Tapi dia juga keras kepala. Begitu memaksakan diri, dia begitu yakin bahwa aku adalah jodohnya.’

‘Kalau begitu jangan berhubungan dengannya, baik lewat surat ataupun telepon.’

‘Aku tidak bisa menolak telepon seorang gadis.’

‘Itulah lemahnya kau! Jika kau tidak tegas, setan akan selalu memanfaatkannya. Ingat hadist 'Annisa-u hubaa ilu asy-syaithaan'?’

‘Itu bukan hadist! Maudlu’ (palsu) itu!’

‘Ok.. terserah kamu lah. Bertindaklah tegas, bukan berarti kamu harus garang dan kejam. Kamu juga ngerti kan?’

‘Tapi aku tetap akan pergi, keputusanku sudah bulat!’

‘Ah! Sudahlah, Zeid. Terserah apa maumu, aku tidak mau melanjutkan ini lagi, sia-sia bagiku.’ Aku berdiri, kesal sekali rasanya. Kulangkahkan kakiku keluar kamar.

Di ambang pintu aku berhenti, kupejamkan mataku, kembali kuatur napas agar rasa kesal di hatiku ini hilang.

‘Zeid,’ kataku tetap membelakanginya, ‘Satu pertanyaan terakhir. Jika Allah memintamu untuk tinggal di pondok ini apakah kamu mau tetap tinggal?’

Zeid berpikir ‘Ya, jika memang Allah memintaku tinggal di sini aku akan mentaatinya.’

‘Berdoalah kepada Allah, banyaklah beristikharah, semoga Ia memberimu petunjuk.’ Aku pun berlalu.

(Mailed to my friend on 32-12-2009)

Minggu, 06 Desember 2015

Sementara itu...

Sementara itu, di belahan dunia lain...

Alkisah, seorang pemuda dengan tekad setinggi gunung lawu, sedalam laut pacitan, berdompet tebal karena struk belanja, berwajah tamvan seperti nampan, bermimpi ingin merubah dunia.

Ia pun mendatangi PBB, berkoar-koar pake toa ke sekjen PBB, "Pakde! Ijinkan saya merubah dunia ini, saya punya sistem maknyuss cespleng untuk dunia yang semrawut ini. Biar saya ciptakan kedamaian di muka bumi ini!"

Ocehannya yang dianggap sinting tentu saja membuat security datang mencidukx, lalu mendeportasinya ke negara tercinta, Indonesia.

Pulang dari markas PBB, si pemuda tak patah arang, ia mendatangi Presiden yang sekarang berdiam di istana negara Bogor. "Mana Presiden?! Mana Presiden?! Katakan padanya, saya akan buat Indonesia bebas korupsi dalam satu tahun!!!!" Teriakannya mengguncang istana menakutkan para kijang yang sedang leyeh2 tidur di bawah pohon kebun raya. Presiden melihat sejenak, tertegun, kagum, merasa terharu, ia berkata kepada ajudannya, "Lek, coba liat pemuda itu, saya terharu ada pemuda sperti dia, bahkan walaupun sudah gila tetap ingat saya, kasih makan, cari tahu alamatnya, antarkan ke rumahnya. Harus sampai rumah! Nanti lapor ke saya!"

Sang pemuda digiring paspampres. Ia tetap teriak2. Dibawa mobil voridjer, wuing2 suara sirine menghentakkan orang2 yang tertidur. Sampailah sang pemuda di kota asal, kampung halaman Madiun Raya.

Tiba di rumah, sang pemuda tetap berteriak, "Ayahanda! Biarkan anakmu merubah kota ini menjadi gemah ripah lohjinawi! Saya bosan melihat kota ini seperti hidup segan mati tak mau. Saya akan rubah semuanya!!!" Teriaknya lantang mengalahkan teriakan bagian keamanan meneror a'donya yang kabur.

Sang ayah menatap bijak anaknya, rintik air mata haru mengalir, kok bisa punya anak segeblek ini. Dengan mengambil napas dalam2 ia berkata, "Nak, kamu tahu bagaimana caranya merubah dunia?"

Sang anak menjawab, "Pergi ke PBB, ayahanda!"

Ayah menggeleng, "Kamu butuh Aqua sepertinya, nak. Bukan itu."

"Terus bagaimana?" Tanya sang anak berbinar-binar. Iya, ia butuh Aqua, sudah seharian belum minum.

Sang ayah berkata, "Ubahlah dirimu sendiri. Sholat lima waktu, jangan main game online terus, apalagi nonton video porno, terus pacaran, nanti kamu ngehamilin anak orang. Jadilah anak yang rajin belajar, jangan bolos terus, ketika ujian jangan nyontek, jangan minta bikinin skripsi ma pacar. Ketika kamu jujur, kamu bisa dipercaya. Kamu bermanfaat bagi orang lain maka kamu sudah merubah lingkunganmu. Kalau sudah lingkungan berubah, bisa jadi nanti kotamu ikut berubah. Kalau kotamu berubah, dapat adipura, jadi smart city inspirasi dunia, maka bisa jadi negara terinspirasi ikut berubah. Kalau negara sudah berubah, bisa jadi nanti dunia berubah, nak..." Sang ayah mengambil tisu, mengusap ingus yang melorot dari hidung sang anak yang terpana, mendengar kata-kata ajaib.

"Jadi tidak perlu menjadi sekjen PBB, yah?"

"Oh tidak perlu anakku yang jeniusnya minta ampun, pengen banget banyak istighfar kenapa punya anak kaya kamu. Tidak perlu kamu menjadi presiden untuk merubah bangsa, cukup jadi salah satu bagian masyarakat yang baik. Ketika satu dunia ini terinspirasi olehmu karena kebaikanmu, walaupun kamu bukan presiden, kamu sudah merubah dunia. Itu super sekali nak." Sang ayah mengepalkan tangan kecuali telunjuknya mengacung seperti Mario Teguh.

"Jadi bagaimana sekarang, apa yang  harus saya lakukan sekarang ayah?"

"Kamu sudah shalat subuh? Shalat dulu nak, mau ketinggalan, atau ketiduran, shalat saja dulu. Itu yang pertama kali harus kamu lakukan. Shalat yang ikhlas. Hanya amalan yang ikhlas yang diterima Allah dan akan menggerakkan orang lain untuk ikut beramal kebaikan." Tutup sang ayah. 😊

Quote: Pondasi sebuah bangsa adalah rumah. Jika keluarganya baik, baiklah bangsanya. Jika keluarganya tukang gosip, berantem mulu, sirik ma tetangga, hancurlah bangsanya, semua bencana akan selalu dianggap salah presiden. 😜"

Dedicated for 629 WA grup

Kamis, 26 November 2015

Deskripsi

"Jika kau diminta untuk mendeskripsikan dirimu, apa yang akan kau katakan?"

"Orang yang gampang bosan, benci rutinitas, menyukai masal.., maksudku tantangan, ehm... pasif menunggu kerjaan, depresi jika tidak ada masal..., maksudku kegiatan atau even menarik. Sangat setress jika kegiatannya itu-itu saja. Bukan orang telaten. Spontan."

"Ah... aku ingat seseorang yang mirip denganmu."

"Benarkah?"

"Tokoh fiktif, tapi tentu saja lebih hebat dia."

"Ah.. sepertinya aku juga tahu. Sherlock? Aku baru menonton serialnya yang mengagumkan."

"Yep. Antisosial. Heartbreaker. Kaku. Tidak bisa memahami perasaan orang."

"Cukup!"

"Kisah cinta yang rumit. Setiap wanita yang menyukainya berakhir dengan kecewa."

"Agrh!!"

"Psikopat terselubung!"

"No! Ak..."

"Jangan katakan kau ingin memperhalusnya dengan high functioning sosiopath!"

"Oke, aku cuma bilang, kadang aku menjadi paranoid. Memikirkan yang terburuk dan membayangkan setiap detiknya hal itu benar-benar akan terjadi. Jika tidak sekarang, mungkin nanti. Atau pasti nanti."

"Begitu rumitkah pola pikirmu?"

"Ya."

"Menyedihkan sekali ya punya otak sepertimu."

"Apakah kau di sini hanya untuk mengasihi diriku?"

"Jujur saja? Pasti kau sendiri tidak menyukainya, bukan?"

"Tidak perlu aku katakan."

"Ceritakan kepadaku, apa keinginan terpendammu dahulu?"

"Ah! Oke, dulu aku berpikir ada baiknya aku tidak mempunyai otak! Kosong melompong seperti kisah seorang anak yang kehilangan separuh otaknya karena tertembak, tapi tetap hidup."

"Wow? Mengapa?"

"Agar aku tidak tersiksa oleh kerumitan pola pikirku yang terus bekerja 24 jam. Bahkan seorang Billy Sidis menghabiskan akhir hayatnya sebagai tukang cuci piring! Alih-alih menggunakan kemampuan otaknya yang luar biasa!"

"Nah, itu dulu. Sekarang?"

"Bagaimana pun juga, ini anugerah dari Tuhan. Okelah aku tidak bisa menggunakannya untuk berinteraksi normal dengan orang-orang, khususnya wanita. Tapi rasanya aku masih bisa memanfaatkannya untuk hal lain, memecahkan masalah organisasi, membangun sistem. Di balik rumitnya otak ini memahami kalimat 'berinteraksi', nyatanya otak ini sangat tangguh dalam menyederhanakan sebuah sistem, abstrak yang tak berjiwa. Pada akhirnya orang-orang -benda yang berjiwa- merasakan manfaatnya dengan kemudahan itu."

"Walaupun itu berarti kamu harus selalu bekerja di balik layar."

"Benar."

"Katakan, sejak kapan kau merasa harus bekerja di balik layar?"

"Aku lakukan sejak kelas 6 SD, dan aku sadari sejak 1 SMA."

"Kau menikmatinya?"

"Ya."

"Adakah keinginanmu untuk menjadi aktor utama?"

"Kadang, tapi aku harus tahu diri. Pikiran itu hanya membuatku kehilangan fokus."

"Lalu, apa harapanmu?"

"Apa pun kondisiku sekarang. Aku tidak akan pernah menyalahkan siapa pun, mencari kambing hitam. Aku harus mensyukurinya. Karena pada saatnya, di balik kelemahanku ini, ada kelebihan yang Allah percayakan kepadaku untuk dimaksimalkan. Yang bermanfaat bagi orang-orang."

"Semoga."

Bego itu Relatif

*Spoiler: tidak disarankan membacanya bagi yang tidak paham bahasa Sunda.

Ini rahasia kecil, menilik judulnya agak frontal, anggaplah minggu-minggu ini otak saya agak bergeser, jadi ada beberapa tulisan jadi ikut-ikutan sedeng. Oke, ini sedikit berlebihan. Moga saya tersesat di jalan yang benar... #whatthe???

Skip-skip

Saya heran dengan pandangan teman-teman di pondok yang menganggap saya pintar, jenius, cerdas de el el. Anak-anak saya tanpa saya tahu bahkan membuat laqob (nama panggilan) untuk saya: Conan. Jadi, kata murid saya, yang curhat pas beberapa bulan sebelum saya keluar, setelah beberapa tahun dipendam akhirnya  bercerita (itu pun setelah saya paksa) bahwa dulu setiap saya akan masuk kelas untuk mengajar kimia, para murid akan berkata, "Eh, ustadz Conan mau masuk!" Saya tidak tahu apakah beneran ada embel-embel "ustadz" atau tidak. Saya merasa terharu! Entah ini pujian atau hinaan bagi saya. Atau karena ketika mengajarkan cara menghafal tabel periodik untuk kolom ke-14 saya memberi contoh cerita Conan Si Genius Idaman Ati. Agak garing memang. Yang jelas, setahu saya, para guru yang memilik laqob biasanya konotasinya negatif.

Lebih gila lagi, murid-murid tingkat SD membuat gosip yang lebih keren, entah termakan omongan kakak kelasnya yang mungkin pusing belajar kimia dengan saya, para anak kecil lucu nan polos sekaligus menyebalkan ini mengatakan saya bisa membuat bom atom!

Seingat saya, saya hanya menerangkan asal usul pembuatan bom atom; elemen radioaktif, peluruhan alfa-beta atau reaksi fusi, bukan mengajari membuat bom atom! Kan gawat kalau omongan mereka didengar intel yang saban hari ada acara pondok selalu rajin kontrol (mungkin karena takut pondok mengkader teroris ISIS). Jika mereka tahu saya dianggap mampu membuat bom atom, tentu saja mereka akan menciduk saya ke jeruji sel, apa kata mamih nanti? #lebay. Sudah dulu dianggap ikut aliran sesat oleh sebagian keluarga, terus sekarang dianggap ikut jaringan teroris. Ya Salaam....

Kembali ke awal. Saya merasa tidak pintar. Semua orang dekat saya -keluarga, teman sekamar, sahabat- tahu saya pelupa berat. Sering lupa menyimpan barang seperti hp hingga berkali-kali hilang, ATM, headset, dsb, kunci motor yang sering tergantung di motor pas parkir (untung ga ada yang ngambil), lupa nama orang, walaupun itu baru 10 detik kenalan (wkwkwkw kebangetan ini mah, tapi it's true!), lupa pesanan orang, dsb.

Otak saya pun lemot abis. Saya masih ingat, ketika itu kelas 6 SD, lagi pulkam ke Bogor, ketemu keluarga, main dengan para saudara sepupu. Ketika itu saya dan 3 sepupu yang sepantaran saya membentuk lingkaran, bermain tebak-tebakan dan tanya jawab. Lalu sepupu perempuan saya bertanya tentang ranking di sekolah, tiap orang menjawab dengan bangga mereka masuk rangking lima besar (kalau tidak salah). Lalu menengoklah muka mereka kepadaku. Dan saya hanya diam. Mungkin pertanyaan sesimpel ini sedang macet di reseptor otak saya, mungkin juga karena efek kebanyakan ngemil Masako membuat otak saya begitu telminya menyerap informasi. Berkali-kali saudara saya bertanya, berkali-kali jawaban saya hanya, "Hah?" polos, tanpa rasa dosa seperti orang idiot. Karena tidak ada jawaban, pertanyaan diganti, diskusi berlanjut.

Di akhir tebak-tebakan, rupanya otak saya baru terbangun dari tidurnya lalu mengolah pertanyaan ranking tadi, seketika terbetik jawaban, "Ah! Saya kan ranking tiga!" (Walaupun dapat rangkingnya setelah dididik ala militerisme kakak perempuan, setelah sebelumnya selalu dapat peringkat terakhir atau tidak dapat sama sekali). Dengan pede kukatakan lantang, "Hey, aku mah ranking tiga!" Dan seketika perbincangan para saudara itu berhenti, diam seketika, hening senyap. Semua menatap kepadaku, lalu menatap sesamanya seakan-akan berkomunikasi dengan telepati, "Ari ieu jelema kunaon? Urang ngawadul naon ieu ngacapruk teu puguh." Ah tidak-tidak... sepupu saya tinggal di kota, tidak bisa bahasa Sunda, tapi mungkin seperti itu pikiran mereka. Saya pun menutup mulut, diam dengan ekspresi tanpa dosa tidak mengerti mengapa mereka diam semua. Bukankah jawaban saya benar? Benar, kan?

Banyak contoh lainnya yang serupa, tapi nanti kepanjangan. Seringkali banyak pertanyaan yang ditujukan kepada saya baru bisa dijawab beberapa saat kemudian, dengan durasi lama, puluhan menit atau jam bahkan hari. Jawaban tiba-tiba muncul ketika lagi jalan-jalan, di kamar mandi, sholat atau melakukan aktifitas lainnya. Biasanya saraf otak ketika itu kembali lancar, walau sudah terlambat. Karena hal itu saya paling menghindari debat.

Misal dulu ketika secara ajaib bisa jadi ketua OSIS SMP favorit di kota saya (akan menjadi segmen khusus jika menceritakan hal ini karena jujur, ceritanya sangat lucu). Ketika itu ada program penggalangan dana untuk korban Palestina -kalau tidak salah. Nah ketika rapat yang menjelaskan program kerja adalah bagian bendahara, seorang perempuan yang cantik nan pintar, mayoret kebanggaan sekolah, pacarnya temanku sekelas, seorang master catur nasional. Dalam situasi serius itu saya malah asyik bercanda dengan sahabt karib saya yang paling pintar (ia sekarang kacab bimbel di Bandung, jujur, anggota saya pada pintar semua, nilainya lebih baik dari saya, sedangkan ketuanya kok oon banget ya, hahaha). Ga terima liat saya mengobrol, si mayoret, eh bendahara ini minta saya yang di depan. Menjelaskan program kerja. Oke, ketika menjelaskan di depan, malah bendahara saya bertanya, "Bukannya masih banyak yang harus dibantu di Indonesia, kenapa harus bantu yang di luar?" Semua mata anggotaku menatap tajam ke arahku. Mata-mata para juara kelas seakan siap menerkamku jika saya salah menjawab. Ini juga sekaligus ajang pengetesan apakah diriku memang cocok jadi ketua mereka, "Cing urang tingali ieu budak pantes teu jadi ketua urang?" mungkin seperti itu yang ada dalam pikiran jenius mereka.

Mati aku. Otak ini kembali sepet. Saya kira ini gegara rasa kesalnya yang membuatnya serasa ingin balas dendam, melihat ketuanya yang terkenal seantero kota karena dianggap sering bolos supaya tidak songong terhadap dirinya (saya menggunakan kata 'dianggap' karena sebenarnya saya tidak benar-benar bolos ketika itu, hanya jarang masuk kelas dengan alasan tugas OSIS: keliling kelas meminta donasi bantuan yang bisa setiap hari #samimawon). Saya tidak bisa menjawab. Auranya menindasku seperti semut digencet gajah. Inilah akibatnya kalau berhadapan dengan pacar pecatur. Skak mat.

Sialnya, baru setelah pulang, ketika berjalan di gang sempit 10 meter dari jalan raya menuju tempat tinggal otak ini baru bekerja, menemukan jawabannya. Ah... saya bersungut ingin segera menyampaikan jawaban yang akan membuatnya mati kutu karena mempermalukan ketuanya sendiri. Tapi tentu saja hal itu tidak terwujud. Saya orang yang tidak pedean. Tidak mungkin berani melakukannya (What?!! cuma ngomong tidak berani?). Lagipula, semua sudah terlambat #ngeles.

Hal lainnya yang baru saya ketahui akhir-akhir ini, mandegnya otak saya untuk berpikir karena saya mudah gugup atau tertekan ketika berhadapan dengan orang lain, apalagi jika ketemu tokoh penting, wanita cantik (eh, seperti tadi kali, yak?) atau orang-orang yang bagi alam bawah sadar saya bukan orang biasa, dengan seketika rasa grogi muncul dan menghilangkan semua ingatan yang telah dihafal bak pasir yang disapu bersih air hujan. Saya lupa bagaimana menyetir ketika tes praktik SIM karena nervous ditemani polisi di samping saya. Atau grogi interview karena ketemu manajer langsung hingga hilang semua materi interview yang sudah dikuasai jauh-jauh hari. De el el.

Saya pasif. Banget. Waktu itu akhir 2013 saya sekeluarga liburan di Malioboro Jogja. Menginap di hotel Malioboro. Jam menunjukkan pukul 10 malam, Kakak saya meminta tolong membelikan es jeruk. Saya pun menuruti.  Menyusuri jalanan Malioboro tidak kutemukan toko yang menjual es jeruk. Adanya cola, buble, jus dan lainnya. Mau lapor hapenya mati. Setengah jam mencari, akhirnya saya pulang dengan tangan kosong. Karena perintahnya es jeruk, bukan? Hahaha... (ingat umur saya ketika itu sudah 24).Tentu saja Kakak saya heran melihat saya tidak bawa apa-apa, bukannya beli minuman yang segar lainnya kalau tidak ada es jeruk kan tidak apa-apa. Mungkin ia berpikir, "Ya ampun, punya adek satu ini ga kreatif banget. Punya otak kaya otak robot!" Mungkin begitu.

Hingga hari ini, saya tetap tidak habis pikir dengan teman-teman yang menganggap saya jenius. Secara ranking saya di SD selalu dapat ranking 7 (rangking paling bawah) atau tidak sama sekali. Hingga akhirnya ibuku bertanya kepada wali kelasku dalam sesi pembagian raport, "Kok anak saya sering tidak dapat ranking, ya?" Kemudian dijawab wali kelas saya, "Waduh, bagaimana ya, Bu, soalnya yang pintar-pintarnya juga banyak." Ah... bijak sekali guruku menjawab, sangat halus. Itu artinya saya memang bodoh, bukan?!!! #esmosi

Secara tes Intelegensi saya dapat nilai IQ 143, itu hal lain. Sebelum tes, saya sudah mempelajari buku tes IQ. Ditambah saya orang visual, jadi tes yang bersifat visual bisa saya kerjakan dengan mudah.

Ajaib, hanya karena hasil tes tersebut saya masuk kelas Akselerasi perdana di SMA paling favorit di kota saya. Padahal sebelumnya saya sudah dianggap tidak lolos di seleksi pertama, yaitu seleksi tes matematika. Nilai saya hanya 4 atau 5 kalau tidak salah. Padahal sayaratnya di atas itu. Hemm, sepertinya pihak sekolah belum paham kalau tes IQ bukan indikator mutlak dalam menilai kepintaran seseorang.

Dan prediksi saya benar. 4 bulan di akselerasi saya seperti anak idiot yang masuk universitas. Kelas IPA, dengan mata pelajaran kebanyakan eksak seperti Matematika, Fisika, Matematika, Fisika, Fisika, Fisika dan Fisika membuat otak ini rasanya mau meledak. Saya masih ingat, di suatu hari yang kelam, guru Fisika favorit sekolah tercinta kami masuk, mengumumkan, dari 8 jam pelajaran yang ada, 6 jamnya akan diisi Fisika secara berseri, tanpa jeda! Kecuali istirahat sekali. Kata guru saya nan bijak lestari, "Paham tidak paham telan saja." Memangnya makanan!

Akhirnya, saya merasa overload, semua pelajaran tidak masuk. Peringkat nilai harian saya berada di akhir. Saya hanya bisa termenung, ngowoh, dan ngahuleng ketika mengerjakan soal ulangan harian matematika. Sang guru pun emosi melihat saya tidak fokus belajar; bersenda gurau ketika beliau menerangkan pelajaran, atau mencoba mencontek teman saat ujian.  Malas sekolah, saya memilih istirahat, tidur di mana saja; kamar, mushola, mesjid, atau tempat yang jauh dari suara para guru menerangkan rumus-rumus menyebalkan itu.

Saya ingat sekali, seminggu saya hanya masuk satu atau dua hari; Jum'at dan Sabtu. Paling sering cuma Sabtu. Satu hal yang selalu saya ingat; para guru tidak pernah memarahi atau menyindir saya ketika masuk kelas. Tidak pernah! Saya pikir mungkin inilah sikap guru terbaik yang pernah saya rasakan sepanjang hidup. Sepertinua para guru paham dan berpengalaman dalam membuat nyaman seorang murid di kelas. Sikap mereka membuat saya menghormati mereka. Membuat saya tetap tenang dan tidak takut berangkat ke sekolah walau dari senin sampai jum'at sudah absen. Di sisi lain, tanpa dosa saya semakin terbiasa untuk bolos, hahaha...

Roda selalu berputar, kawan. Mungkin sekarang kita merasa di bawah, tapi nanti kita akan di atas, kalau rodanya berputar, kalau tidak, ya nasib, wkwkwk... Tapi ini beneran, saya mengalaminya, seorang yang merasa paling bodoh di kelas mendadak berubah 180 derajat ketika pindah ke kota lain.

Awalnya saya merasa seperti kerbau dicucuk hidungnya yang dibawa si penggembala ke sekolah ikut belajar kalkulus. Tidak betah belajar di SMA, saya pindah ke pesantren di Jawa Timur dengan kelas IPS, entah kenapa otak saya seperti menjadi jenius. Apa karena pelajarannya yang mudah atau kompetisi siswanya yang tidak terlalu ketat, saya tidak tahu. Di sekolah yang baru, diri saya menjelma bak Gatot Kaca yang terlahir kembali dari kawah candradimuka. Di tahun pertama saya mendapat peringkat satu tertinggi se-pondok putra, dan peringkat satu lomba pidato Bahasa Arab! Wow! Sampai sekarang saya sering tidak percaya, ini apa karena sayahnyah yang memang berubah pintar atau teman-teman saya yang bodoh semua?! Padahal materi pelajarannya mayoritas berbahasa Arab dan Inggris. Ah... lupakan saja.

Tidak-tidak, tentu saja beberapa hal di atas hanya candaan. Yang saya yakini, ini akibat doa orang tua yang mendoakan anaknya berubah dan terkabul oleh Allah. Saya sadar, saya sudah membuat susah mereka. Bahkan almarhum ayah saya sampai 2 kali dipanggil ke sekolah karena saya jarang masuk kelas. Beberapa cerita ini sudah saya tuliskan dahulu kala secara lebih detil, jadi tinggal cek saja tulisan di tahun pertama atau kedua.

Skip-skip

4 tahun belajar peringkat saya tidak jauh-jaub kalau tidak ranking 1, maka paling ranking 2. Kecuali semester terakhir pas wisuda, peringkat saya melorot ke-3 karena sudah malas belajar, stress mengurusi Buku Tahunan Siswa yang menguras emosi (malasnya aja dapat rangking 3. Saya tetap tidak paham!) Ketika itu saya ketua tim project buku kenangan dengan format baru. Prinsif saya, saya tidak suka mengikuti yang mainstream. Saya suka pembaharuan, dan pembaharuan itu beresiko mengganggu hidup normal saya (dan nilai-nilai ujian akhir). Tapi itu setimpal ketika menikmati hasilnya. Saya puas.

Kembali ke laptop, eh maksudnya handphone. Saya pikir, satu-satunya orang yang paham kebodohan saya luar-dalam adalah senior saya. Panggil saja S. Ia menjadi tutor saya sejak kelas akhir hingga sekarang. Bareng-bareng kerja di bagian publikasi. Merasakan suka-dukanya bekerja dengan bagian yang berhubungan langsung dengan pimpinan pondok, tanpa intervensi bagian atau wakil pimpinan lain. Senior saya ini yang bisa berteriak memarahi saya di depan umum -satu-satunya yang pernah- berkata "BEGO!!!". Hahaha...

Ketika itu akhir tahun 2008. Ujian semester satu yang melelahkan baru saja usai. Bayangkan, jika biasanya ujian hanya berlangsung 1 minggu, maka di sini bisa 1 bulan! Kumaha teu jangar ieu sirah! Di penutupan ujian, Pimpinan Pondok dengan tegas menetapkan 10 hari dari sekarang akan diadakan Panggung Gembira, acara pagelaran seni dengan format full entertainment. Jika tidak tahu sila search di You Tube "Panggung Gembira" maka anda akan terkejut dan kagum dibuatnya, sebuah acara yang dikerjakan anak-anak setingkat SMA.

Kawan, anda tahu, acara seperti ini biasanya membutuhkan waktu persiapan berbulan-bulan. Dan penanggung jawab acaranya adalah siswa kelas akhir, alias saya dan teman-teman sekelas ketika itu. Mendengar acara harus dimulai 10 hari lagi, kami terkejut, tidak percaya, seakan bermimpi. Itu mustahil!

Saking crowded-nya. Sampai-sampai ada beberapa teman yang berkelahi dalam musyawarah setelah penutupan itu. Asli! Berkelahi! Walaupun problem perkelahiannya tidak nyambung dengan diskusi utama. Pokona riweuh lah!!

Diskusi berlangsung alot dan panas. Walaupun para dedengkot kelas kami memotivasi para kroconya bahwa ini tidak mustahil, tetap saja bisa terlihat dari matanya tersembul ketidakyakinan. Kumpul bubar untuk shalat ashar. Di waktu itu rasanya saya dan kawan-kawan berdoa dengan khusyu, seakan nyawa di ujung tanduk #lebay. Kami berdoa, semoga ada jalan keluar.

Dan Tuhan tidak pernah abai, kawan. Ia akan menjawab doa hamba yang berdoa kepada-Nya, sekalipun Ia tahu kami santri-santri bengal yang sering melanggar, doa orang kepepet selalu disukai Tuhan untuk segera dikabul. "Fatwa" Bapak Pimpinan yang terkesan musykil pun menjadi mungkin. Tuhan memang tidak pernah membebani hamba-Nya di luar kemampuannya.

Sore hari kami dikumpulkan oleh wali kelas terbaik kami, yang tegas, bijak dan pernah kami berkonspirasi ingin membakar motornya karena watak bebal kami yang belum bisa memahami kebijakan beliau, yang sebetulnya baik untuk masa depan kami. Beliau menawarkan solusi. Dengan kehadiran seorang kenalannya, yang ahli dalam bidang media entertainment. Temannya sudah 10 tahun kerja di Jakarta, kini ia "kebetulan" sedang pulang ke rumahnya Ponorogo.

Kita tahu, bukan, tiada yang namanya kebetulan. Berita ini menjadi sujud syukur bagi kami. Seakan cahaya penerang setelah gulap gulita listrik parem kusabab PLN-na kabentar halilintar. Atau selaksan embun pagi menyegarkan kerongkongan yang kering kerontang, kehausan kusabab cai PDAM-na (minggu ieu) saat wae (padahal musim hujan!) Ah...

Saat kami bertemu dengannya, si S, ia terasa asing bagi kami, berambut gondrong, bercelana boxer selutut. Datang dengan istilah-istilah asing tentang konsep acara, rundown, mock up, dummy, atau tata letak lighting seperti par, parlet dsb. Kami seperti memasuki wahana satelit ruang angkasa yang penuh istilah teknis. Hebat betul orang asing ini.

Asumsi kami salah. Nyatanya ia alumni pondok! Keluar tahun 1999, setelah 1 tahun pengabdian di pondok, ia merantau ke Jakarta. 10 tahun di sana, ilmu desain grafis+media ia kuasai. Pengalamannya berkecimpung dalam dunia production house membuat segalanya menjadi mudah bagi kami. 

Takdir menunjukkan saya yang ditunjuk menjadi asistennya sebagai Art Director. Padahal sebelumnya saya cuma bagian kreatif yang kerjaannya tidak jelas. Dengan posisi ini, saya harus membuat persiapan acara, scheduling, managing, supervising, dan tetek bengek lainnya. Intinya, saya yang akan paling sering kena marah olehnya. Jelas, profesional yang begitu teknis-logis dan telah kenyang asam-garam kehidupan metropolitan macam dia ini, ketika harus tandem dengan murid sok pintar padahal bloon sepertiku ini hanya akan menimbulkan perang dunia ketiga.

"BEGOOO!!!!" Teriak S di hadapan kru multimedia di tenda operator, di sekitaran penonton, di malam pertunjukkan acara panggung gembira. Semua terdiam, para kru multimedia profesional yang sengaja S sewa dari Surabaya pun terdiam, tidak berkutik dengan standar kerja S yang tinggi. Karakter keras Jakarta yang pernah ia ceritakan kepadaku keluar. Ia sudah mewanti-wanti kami harus siap mengahadapinya jika berbuat kesalahan sekecil apapun. Dan saya baru melakukannya karena salah menekan tombol audio. Simpel. Tapi fatal bagi S hingga ia harus mencabut kabel audio laptop secara paksa dan menyemburkan umpatan itu.

Agak terasa aneh bagi kami mendengar umpatan kasar itu. Yah, mungkin karena di pondok biasa berkata-kata halus nan gemulai, resmi Arab-Inggris, penuh dengan tata bahasa yang membuat otak rieut. Tapi tidak mengapa, saya sudah (mulai) terbiasa kena marah. Setelah diteriaki, ya kerja kembali. Oh... tidak dengan rekan kerjaku di ruang operator -yang kami tidak diijinkan oleh S membawa kursi untuk duduk sepanjang acara 4 jam lamanya, temanku ngepeer setelah melakukan kesalahan yang pernah dilakukannya ketika gladi panggung; salah menswitch file acara. Fatal. Hingga kena bulan-bulanan S. Walau mungkin maksudnya bercanda, tidak bagi rekanku ini. Setelah acara usai, ketika semua panitia merayakan kesuksesan acara dengan pergi ke panggung, ia langsung pulang ke kamar, mungkin tidur meratapi nasib mengapa ia harus terlahir ke dunia ini.

Acara memang berjalan lancar. Canggih memang si-S ini. Ia memodernisasi seluruh budaya kerja dalan membuat acara pagelaran seni menjadi acara yang berkelas dan standar Production House. Ia bisa membuat acara yang terasa mustahil dikerjakan dalam 10 hari menjadi mungkin. Bahkan kami bisa gladi 3 kali; kotor, resik dan panggung. Hingga sekarang, saya belum melihat lagi acara panggung gembira semenantang yang kami kerjakan.

Anyway, sampai sekarang saya masih sering dimarahi S. Ia tahu betapa begonya saya. Bahkan bulan lalu saya dibully habis-habisan -banget- gara-gara melakukan kesalahan fatal menyangkut masa depan saya. Saya tidak bisa menjelaskannya di sini (kentang banget!).

Yah.. saya yang dianggap bego oleh S berbanding terbalik dengan anggapan teman-teman satu angkatan. Bego itu relatif, bukan?

*maaf jika bacanya puyeng, membuat tulisan panjang bermodal touchscreen 4 inchi tu memang bikin mata sepet hayang dibeubeutkeun hapena :D

Rabu, 18 November 2015

Refreshing Sejenak

Numpang mampir...
Sory ini edisi renungan, agak sedih lah kaya di deket kuburan, eh itu mah takut kale... 😭

1 bulan lalu ana k pondok, silaturahmi, ketemu pak kyai, ngeliat anak2, ngeliat pondok, ngeliat ustadzah... eh, sory maksudnya asatidz #salahfokus

Wah g kebayang stelah 10 tahun akhirnya keluar, hidup d rumah, jadi pengangguran, eh... #curcol, kemudian merasakan jadi org luar, hampir sprti kawan2 , kemudian kembali lagi menengok pondok bkan sbgai santri atau ustadz aktif, tpi sprti org luar angkasa kesasar ke bumi Arrisalah, masuk ke tiap kamar ga asal selonong boy,,, harus kulonuwon dulu tengok kanan kiri penuh hati2 kaya santri mau gosob na'el au migrofah 😉 Ketemu ustadz salaman dulu cipika-cipiki #bohong! ga kaya dulu ketemu langsung to the point ga pake ijin nyruput kopi buatannya yang baru dibuat 😜

Ah... jadi rasanya seperti ini jadi orang luar? Dulu ana udah kepikiran gimana sih rasanya para alumni ketika datang nengok pondok, ngeliat pondok udah berubah, temen2 satu angkatanx udah pada ngilang ditelan bumi dilempar badai 😀 klo pun ada udah jadi pertapa geni di ujung gua dasawarsa, berjenggot lebat, susah gerak karena tubuh tambun penuh lemak saking lamanya bersemedi #nooffense, atau kaget melihat muka temannya jadi tua penuh keriput karena stress ngurus pondok dan jadi hitam karena sering kepanasan ngurus upacara di lapangan reformasi 😎

Oke, cukup, kebanyakan lebaynya nanti harus nyediain banyak tisu buat bersihin umbel #srooottt...

Ah begini rasanya jadi alumni. Ga ada lagi pak kyai yg daur bangunin laya dulu. Kadang saking takutnya harus sembunyi di kamar mandi KMI atau lemari kosong di kamar. Ga ada lagi suara jaros memekakan telinga jam 4 subuh atau azan tahajud orang kampung jam 3 yang membangunkan untuk bisa ke kamar mandi, kencing, dan tidur lagi.... 😴

Ah.... udah dulu ah, mentog euy pegel jempolna ngetik wae. To be continued... if not lazy... 😘

Peringatan: Tulisan ini agak lebay, gatau beneran atau tidak. Bisa ditambahkan sesuai selera dan pengalaman masing2... 😀

* Tulisan awalnya didesikasikan utk teman2 629 di grup WA
** Na'el au migrofah: sendal atau gayung
*** KMI : kamar mandi gedung pengajar
**** Dasawarsa : kompleks kantor dan kamar guru muda
***** Reformasi : Lapangan upacara pondok

Selasa, 10 November 2015

Lesson

"Now you've got the lesson."

"Apa maksudmu?"

"Ah... tidak, hanya teringat ucapan M kepada Bond di Casino Royale."

"Kau memikirkan sesuatu? Biasanya ada pemicunya, bukan?"

"Yap, sepertinya saya salah membuat keputusan."

"Mau bercerita detailnya?"

"Nope, hehehe."

"Oke, apa sebabnya?"

"Karena saya tidak percaya diri, saya mudah terpengaruh ucapan orang lain. Saya masih ketakutan mempertahankan pendapat saya. Saya takut mengecewakan orang lain, akhirnya saya tidak bisa menjalani apa yang saya yakini."

"Lalu?"

"Saya sudah belajar untuk tidak menyesalinya, saya juga belajar untuk tidak menarik kembali keputusan yang saya buat, walaupun konsekuensinya merugikan diri saya pribadi. Itu semua harus saya hadapi."

"Wow, apa konsekuensi dari pilihan yang kau ambil?"

"Hm.... secara jangka pendek tidak kelihatan, secara jangka panjang akan banyak orang yang tersakiti, hal terburuknya akan mempengaruhi karir masa depanku."

"Dan kau siap menanggung hal itu?"

"Ya."

"Apakahnya sebetulnya keputusan itu dapat dirubah? Bukankah lebih baik merubahnya jika kau sudah tahu akan merugikan dirimu dan orang lain."

"Entahlah, saya hanya berpikir, saya ingin menghormati keputusan ini yang mana dibuat bersama-sama orang lain. Jika kemudian saya membatalkannya, tentu orang-orang akan menganggap saya tidak punya sikap. Plin-plan. Saya harus belajar untuk tidak goyah terhadap keputusan yang telah diambil. Entahlah, saya juga tidak terlalu mengerti apakah ini sesuai dengan integritas diri saya atau tidak."

"Kau ingin belajar konsisten, begitu?"

"Ya, lagipula, yang saya terangkan tadi belum tentu terjadi, namun jikapun terjadi, saya siap menghadapinya."

"Begitukah?"

"Saya pikir, sepertinya sudah telat untuk merubah keputusan ini sekarang. Maksudnya, jika saya paksakan untuk merubahnya, saya merasakan bukan karena niat yang tulus lagi, ada motif lain, yang jelek dan tidak bijak. Jadi sudahlah, apa yang telah terjadi biarlah berlalu. Selanjutnya masa depan saya serahkan kepada Tuhan, biar Ia yang mengaturnya. Saya hanya meyakini, jika saya mentaati ketentuan-Nya, Ia akan memberikan yang terbaik."

"Jadi, apa sebenarnya pelajaran yang kau ambil?"

"Bisa disimpulkan; Jangan Mengambil Keputusan Ketika Dalam Keadaan Emosional, sebaik apapun perencanaannya, ingatlah ia telah ditunggangi oleh setan, tidak akan bijak hasilnya."

Kamis, 05 November 2015

Traveling Alone: The Goal

Apa yang paling saya sukai ketika bepergian sendiri? Sensasi. Ya. Entah karena sifat saya yang agak individual, sekalinya bisa keluar rumah maka sebisa mungkin saya pergi menjelajah sendirian.

Masalah destinasi bagi saya tidak terlalu penting, yang penting adalah sensasi ketika menjalani perjalanan itu sendiri. Perjuangan yang saya keluarkan, suasana yang saya rasakan, hingga emosi dan respon yang saya rasakan ketika melakukan perjalanan itu yang palibg berkesan bagi saya.

Banyak sensasi yang bisa saya rekam; sensasi menyusuri trotoar, paving, atau aspal dengan jalan kaki saja, menjelajahi setiap sudit kota, sensasi ketika naik omprengan mobil bak terbuka, sensasi berdiri naik bus atau kereta, berdesak-desakan, menahan pegal berjam-jam, menghitung waktu mundur, kota demi kota hingga akhirnya tiba di tempat tujuan.

Atau sensasi ketika kehilangan dompet/barang-barang pribadi :p, atau sensasi menjelajah kota yang asing memakai motor pinjaman teman hingga salah jalan dan kena tilang (seperti baru-baru ini -tepatnya kemarin di Jakarta), sensasi ketika tersasar, atau sensasi akhirnya bertemu orang yang saya cari atau  sampai di tempat yang saya tuju, bagi saya, semua sensasi itu begitu menakjubkan.

Saya belum tahu perbedaan besarnya jika traveling ini dilakukan bersama-sama. Beberapa kali saya melakukannya. Tapi saya belum bisa merasakan sensasinya secara mendalam. Mungkin nanti. Semoga bisa saya ceritakan.

Berdiri di atas KRL jurusan Jakarta-Bogor. Pertengahan jalan.

Rabu, 28 Oktober 2015

Jadilah Kuat

"Pandang aku."

"Buat apa?"

"Jangan banyak tanya, lihat mataku."

"Heh... terus?"

"Kau terlalu berlebihan."

"Maksudmu?"

"Sampai kapan kau akan menghukum dirimu sendiri?"

"Tidak..."

"Kau merasa bersalah, menganggap semua kesalahan ada di pundakmu, kau menanggung semua beban yany tidak seharusnya kau tanggung."

"Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu?"

"Matamu, bukan mata seseorang yang kukenal dengan optimismenya memandang kehidupan. Mata yang penuh api keyakinan. Aku hanya melihat mata penuh keraguan, pura-pura kuat padahal dalam hatinya tersiksa."

"Apa yang harus aku lakukan?"

"Lupakan semuanya, pandanglah semuanya secara adil. Aku tahu kau orang baik, tapi mengambil semua tanggung jawab untuk kau tanggung sendiri itu hanya membuatmu semakin terpuruk dalam beban penyesalan yang dalam.

Lepaskan, biarlah semuanya mengalir. Sebuah kesalahan diciptakan oleh Tuhan hanya agar kita mempelajari hikmahnya, agar kita kuat, agar kita lebih siap mengahadapi kehidupan yang memang... tidak pernah adil untuk orang lemah."

Sabtu, 24 Oktober 2015

Kepikiran

Jika saya ingin mengklaim bahwa 2 tahun ini saya bisa kerja secara ikhlas, bahwa semua yang saya korbankan sepadan dengan raihan kesuksesan, itu artinya saya tidak tahu diri. Karena memang sampai sekarang saya merasa gagal.

Dengan segala expos diri agar orang-orang bersimpati, berbelas kasihan atau minimal memaklumi apa yang saya lakukan, saya rasa itu bukanlah kerja ikhlas, tapi kerja karena terpaksa. Terpaksa ikhlas dan kemudian meminta dunia untuk mengakuinya.

Tulisan yang absurd. Bahkan orang cerdas sekalipun tidak akan paham apa maksudnya ini. Tidak apa lah. Hanya sekadar merenung. Kepikiran...

Selasa, 20 Oktober 2015

Filosopi Cincin Hitam

"So, what's next?"

"Buying another one!"

***

"Aku lihat, dari bekas cincin di jarimu, sepertinya awalnya digunakan di jari tengah. Kemudian dipindah ke jari manis. Why?"

"First. To show it's not ring for engagement. I'am still single."

"Terus?"

"Until I found prophetic hadith that banned men using ring in middle and index fingers. Even the Prophet used it in little finger."

"Terus alasanmu?"

"I didn't find match one, hahaha..."

Jadi gagal dong nunjukin jomblonya, hahaha...

"I use black. The meaning could be sadness, in mourning, and misterious."

"Jadi itu alasanmu memilih hitam."

"Yep."

"Batu giokkah?"

"Not, but it may be titanium."

"Kamu selalu menghubung-hubungkan sesuatu hal dengan hikmah. Terkesan mengada-ngada, tapi itulah kamu. Nah, sekarang apa yang kau pikirkan ketika Tuhan memberikan cincin yang cocoknya untuk jari manis."

"Maybe this to deceive women to think I'm in engagement or have married. So, I can free from their temptation and focuss on doing my job. That's it."

Minggu, 18 Oktober 2015

Cincin Hilang

"Ke mana cincinmu?"

"Oh... aku lupa, seingatku terakhir aku pakai ketika menyetir kemarin."

"Kamu itu memang pelupa. Ada saja yang kau hilangkan. Apa semua barang selalu kau hilangkan?"

"Kalau kecil, hehehe... seperti cincin, jam tangan, atm, dompet, hp, hemm... apa lagi ya? Ah... kunci motor!"

"Hey, bangga sekali kamu sering menghilangkan barang!"

"Ya enggak gitu juga kali. Yah... biarlah, selalu ada hikmahnya."

"Keteledoranmu berlindung di balik hikmah? Sulit kupercaya! Memangnya apa hikmah dari hilangnya cincinmu sekarang?"

"Yah, mungkin supaya aku tidak tergesa-gesa memberikannya sebelum waktunya. Aku kan orangnya tidak sabaran. Alhamdulillah..."

"Ah... terserah kamu lah!"

Minggu, 04 Oktober 2015

Takdir Jodoh 2

Ini tentang guru saya, sebut saja Ustadz. Dosen filsafat lulusan doktoral Al-Azhar Mesir. Ahli tentang Syi'ah. Kau tahu, studi master dan doktoral di sana paling lama dibanding lainnya. Total bisa 9 tahun lebih. Hanya orang-orang telaten yang bisa lulus.

Beliau teman guru favorit saya yang sering saya ceritakan. Ketika di Mesir, ia ditawari menikah dengan seorang perempuan solehah oleh rekan-rekannya. Ia menolak halus. Ia sudah punya calon pilihannya sendiri.

Teman-temannya tahu potensi yang dimilikinya. Mereka tak patah arang. Mereka menghadap guru mereka di tanah air, yang juga guru si Ustadz. Mereka memohon, agar perempuan pilihan mereka, yang merupakan cucu sang kyai, sudi ditawarkan kepada temannya, si Ustadz.

Akhirnya, sang guru memanggil muridnya, si Ustadz. Memintanya dengan hormat. Ia tidak dapat menolak, ini permintaan gurunya. Ia sanggupi permintaan ini. Semuanya diserahkan kepada Allah. Allah Maha Adil dan Bijaksana, Ia mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya.

Guru saya berkata, perkara jodoh bukanlah hal yang bisa dicerna logika. Kadang tidak masuk akal jalannya. Memang, adakala kisahnya tidak seindah film telenovela. Seringkali alurnya tidak sedramatis cerita sinetron.

Tidak semua yang kita inginkan, khayalkan, impikan, akan terjadi. Apalagi jika bayangan yang reka mendahului takdir Allah. Kita tahu, yang paling mengerti skenario hidup kita bukan kita sendiri, tapi Allah.

Bagusnya, ketika kita meyakini Kuasa-Nya, meyakini kebijaksanaannya, maka segala kesedihan yang kita alami -karena kenyataan yang tidak sesuai angan-angan kita- menjadi lebih mudah untuk lekas sembuh. Larut dalam aliran kepasrahan, bahwa hidup haruslah kembali kepada-Nya, kepada ketentuan-Nya, kehendak-Nya. Apapun yang terjadi, semua untuk kebaikan kita...

Sumedang: Mencari Ayam Murah

Apa yang aku bayangkan ketika kembali ke Sumedang? Hemm… sebuah kota kecil dengan pegunungan-pegunungannya yang eksotis, cuaca sejuk, air yang dingin, pergerakan masyaratkat yang santai, lalu lintas yang ramai; padat merayap dengan kecepatan maksimal kendaraan hanya 40 km/jam, jarang mendengar kecelakaan kendaraan bermotor, padahal toleransi berkendaraannya termasuk tinggi, seperti bagi kendaraan bermotor yang dibonceng tidak perlu pakai helm. Kota yang menggambarkan memang inilah pewaris terakhir kerajaan sunda Pajajaran yang gemah ripah loh jinawi, adem ayem, tentram, damai, ramah dan bersahabat.

Walaupun begitu, ini bukan kota kelahiranku. Aku lahir di Bandung, beberapa bulan kemudian pindah ke kota ini. Akte kelahiranku dibuat di kota ini, jadinya setiap ditanya tempat tanggal lahir, terpaksa aku menulis kota Sumedang.

Lalu apa yang aku lakukan di kota ini? Melakukan pekerjaan-pekerjaan ‘manusia normal’ yang jarang aku lakukan dahulu. Seperti belanja ke pasar; blusukan ke dalam pasar, memilah-milah buah yang masak, melakukan pekerjaan yang ‘enggan’ kulakukan: menawar barang. Sepertinya memang hanya orang-orang sabar dan telaten yang bisa menawar barang, aku belum punya bakat itu. Dari dulu jika membeli sesuatu aku paling malas dan enggan untuk menawar barang.  Beban psikologisnya berat (ciah…). Terbayang bagaimana perasaan orang yang barangnya ditawar habis-habisan. Dulu aku pernah jualan baju, dan merasakan tidak enaknya mendapat pembeli yang menawar barang habis-habisan (pengen nagis T-T) ah.. saya nyah saja yang terlalu melankolis. Tidak cocok jadi pedagang kali ya? ketika itu.

Ada rahasia kecil lainnya yang kutemukan ketika pertama kali harus mengantar kakak belanja daging ayam. Yaitu jika ingin mendapat harga murah jangan beli di penjual umum yang harganya standar. Beli di tempat pemotongannya langsung, selisih harganya bisa 10-15ribu. Wow.

Kejadian ini tidak disengaja. Ketika itu aku memarkir motor di samping pasar yang ternyata di dekatnya ada tempat pemotongan ayam. Ada ibu-ibu yang langsung membeli eceran dari sana. Aku langsung memberitahu kakakku. Jika di pasar kota saya harga ayam potong (betina) bisa 30-40 ribu per kilo. Di sini hanya 20 ribu saja. Yap. Seingat saya di Jawa harga pasaran ayam sekitar 27 ribu ketika itu. Mungkin dari pemotongnya hanya 20 ribuan juga, atau bahkan bisa kurang. Murah sekali, bukan? Yang sempat terpikir, berapa harga asli ayamnya yang masih hidup?

FYI: Tempat pemotongan ayam di sini menimbang berat ayam yang akan dibeli bukan sesudah disembelih dan dibersihkan bulunya, tapi sebelum itu. Menjual per ekor. Juga tidak melayani pemotongan kecil-kecil.

Jumat, 02 Oktober 2015

Pagi Ini

"Sepertinya, keinginanmu untuk tidak keluar negeri kecuali pertama kali ke Mekah terkabul ya?"

Pagi ini, 2-10-15, terbangun oleh alarm jam 2 subuh. Kalimat terakhir yang diucapkan temanku dalam mimpi mengacaukan kesadaranku. Entah harus gembira, sedih, atau bagaimana. Setelah sebelum tidur aku berwudhu, membaca surat-surat pendek dan doa tidur -sesuatu yang jarang kulakukan. Pada awalnya (00.15) susah tidur, hingga akhirnya terlelap.

Dan aku tersesat -lebih tepatnya tiba-tiba berada- di Masjidil Haram! Masih mengenakan celana biru hitam yang kotor bernajis dan baju -aku lupa detailnya- dan dibalut kain ihram. Masya Allah... lautan jama'ah bergerak untuk siap-siap tawaf. Aku meminta temanku -seperti temanku B yang dari Jambi- membenarkan penggunaan kain ihramku yang salah. Para jama'ah berhenti untuk sekedar menungguku. Aku merasa tidak enak dan mempersilahkan mereka thawaf.

Satu putaran selesai mereka bergerak menuju ke tempat lain. Kini hanya ada kau dan Ka'bah di depanku. Kosong tidak ada seorang pun di sekitarku. Aku pikir Ka'bah begitu besar, nyatanya ia menjadi kecil di hadapanku. Hanya sebesar rumah saja. Aku shalat, curhat kepada Allah mengungkapkan rasa syukurku. Kututup mataku. Kupinta apakah Ka'bah bisa membesar untuk melihat keagungan-Nya. Walau akhirnya aku tetap melihatnya dalam ukuran yang sama. Aku tidak tahu mengapa. Rakaat kedua aku sadar baju yang kukenakan tidak bersir, tapi aku tetap melanjutkan shalatku sebagai rasa syukur dan ibadah kepada-Nya. Ya Allah...

Terakhir, dalam sebuah ruangan, aku diberitahu temanku -entah siapa, mungkin R tetanggaku- yang mengabarkan ada santri/jama'ah yang lengannya patah, tidur terlentang menunggu bantuan, ia seperti temanku Y dari Riau. Di saat penantian itu, aku terbangun alarm.

Apa ini? Sepertinya aku tidak akan mencari artinya dalam takwil mimpi.

Kamis, 01 Oktober 2015

Simpul Kematian

“Doakan saya bisa menjadi anak shalihah, agar menjadi amalan yang tidak pernah putus buat bapak. Doakan hafalan saya khatam, agar saya sekeluarga bisa kumpul di surga bersama bapak.”

Teman saya mengirim pesan di atas. Ia mengirim pesan setelah menerima kabar ayahnya meninggal dunia satu hari sebelumnya. Isinya membuat saya kepikiran sampai sekarang. Begitu dalam dan bermakna. Suatu masalah yang memang mengendap lama, berputar-putra layaknya pusaran air yang tak kunjung berhenti, hampir 20 tahun lamanya ini.

Beberapa tahun ini, setiap kali saya berkendara, melewati pelosok-pelosok desa di sekitar tempatku tinggal. Kulihat potret kepasifan hidup, orang-orang tua yang duduk di depan rumah dengan mata kosong. Tidak kulihat gairah hidup. Seakan-akan hidup hanya mengisi waktu menunggu ajal mendekat. AKU TIDAK INGIN HIDUP SEPERTI MEREKA. Pernah aku berharap, jika imanku bisa full, bebas dari keraguan dan ketidakyakinan, kupikir lebih baik Tuhan mencabut nyawaku juga saat itu. Itu sudah cukup. Tentu saja mungkin doa ini dianggap egois jika aku mempunyai keluarga atau tanggungan. Hanya saja, mungkin doa itu bentuk rasa prustasi diriku dalam mencari pencerahan jiwa.

Ketika melihat dunia ini, orang-orang yang bekerja keras demi anak-istri, timbul pertanyaan, apakah hidup memang hanya untuk seperti ini? Melihat anak-anak mudah sibuk dengan dunianya masing-masing, lupa dengan kewajiban agama, apakah memang akhirat itu tidak ada? Melihat para orang tua yang uzur sibuk memakmurkan masjid, tanpa kehadiran anak-anak muda, apakah memang rumah ibadah itu memang hanya diperuntukkan orang-orang tua? Suatu pemandangan yang bagi diriku sangat membosankan, rutinitas, sesuatu yang kubenci.

Seorang sahabat, teman sharing, masuk kategori ring 1, mengubah ava (foto profil) sosmednya menjadi hitam. Aku berkomentar, “Finally…”. Muncullah percapakan berikut:

2015/06/14(Min)

16:00     Friend   Finally?
22:44     Me         I prefer like your pict is nothing than before
22:44     Me         Ganti2 mulu
22:44     Me         Hahahaha
22:44     Me         But
22:44     Me         Seriously
22:45     Me         Woman face is interesting
22:45     Me         Efek negatifnya
22:45     Me         Bsa bikin fitnah bgi cowok2 yg kurang iman
22:45     Friend   Hoh.. Got it heheh
22:47     Me         I found my friend's pict like this
22:48     Friend   Btw blkgn ini keinget mati...aja. Gtw knp. Hampir sedih mulu. G paham. Tkt aja gt.
22:48     Me         [foto meme: MAAF FOTO PRIBADI TIDAK TERSEDIA Karena Menjaga Pandangan itu Indah]
22:48     Friend   :)
22:48     Me         Hemm...
22:48     Friend   Iya. Makanya di FB ud hapusin foto dan untag
22:48     Friend   Ud lama sih
22:48     Me         N death you mean black?
22:48     Friend   I don't know.
22:49     Me         Stidaknya otak menerjemahkanx menjadi hitam, maybe
22:51     Friend   Hmm mngkn hitam lbh menjelaskan rasa takut
22:51     Friend   Terutama stlh mengingat dosa dsn
22:51     Friend   *dsb
22:51     Friend   Kayak g tenang aja gt
22:52     Friend   Gmn klw tiba2 meninggal..
22:52     Friend   Astagfirulloh T_T
22:56     Me         yah... serahkan aja semuanya ke Allah...

Jujur, membaca pesan yang dikutip di awal tulisan membuatku teringat percakapan ini. Bahwa setiap manusia sejauh apapun melangkah, sebesar bagaimanapun cita-citanya, ia terikat dengan kematian. Simpul kematian. Namun itu tidaklah terlalu penting, yang paling penting ialah dibalik kematian itu sendiri. Apa yang bisa dipersiapkan jika kita menghadapi kematian –baik siap atau tidak siap, apakah kita cukup percaya diri dengan segala amal perbuatan selama hidup kita ketika akhirnya tirai kematian tersingkap dan menunjukkan dunia yang sesungguhnya, dunia akhirat. Aku tidak bisa memikirkannya.

Kembali ke awal. Temanku, yang mengirim pesan singkat itu, seorang wanita solehah yang kupikir, sudah mendapat tujuan hidup. DI SURGA BERSAMA  AYAHNYA. Ketika aku masih berpolemik memahami tujuan hidup, hari akhir, kehidupan setelah kematian, dan bagaimana upaya dan motivasi untuk meraihnya, ia telah mendapatkannya melalui sebuah momentum; ayahnya yang meninggal dunia.

6 tahun yang lalu, saat ayah saya meninggal. Dengan situasi yang sama yaitu tidak bisa melihat wajahnya untuk terakhir kali, namun memiliki perbedaan cara pandang yang berbeda dalam memahami kematian. Mungkin bedanya ketika itu adalah pola pikirku yang masih muda dan jauh dari kosakata “kematian”. Akhirnya aku tidak bisa memiliki motivasi sehebat temanku itu. Aku percaya –dengan ijin Allah- ia akan mendapatkan cita-citanya. Amin.

Bagaimana dengan diriku? Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apakah ayahku kini dalam keadaan baik karena amalan anak-anaknya, atau dalam kesusahan karena dosa salah satu anaknya yang tidak tahu diri ini, terjebak dalam labirin kebingungan nan penuh keraguan untuk mencari jalan keluar menuju jalannya orang-orang yang beriman, yang percaya kepada kehidupan abadi nan kekal nun jauh berbeda dengan kehidupan yang fana ini, kehidupan yang menurutku sangat absurd.

Tidak tepikir olehku bagaimana jika malaikat izrail berada di hadapanku. Siap-siap mencabut nyawaku. Tidak terbayang aku sanggup mengucap kalimat tauhid di saat-saat terakhir, kemudian meninggalkan dunia dengan senyum di bibir, seperti yang dialami ayah temanku itu. Bahkan mengucap dzikir setiap terbangun dari tidur pun sulitnya minta ampun. Padahal aku tahu kalimat La Ilaha Illallah beserta dzikir lainnya sangat dianjurkan dibaca ketika bangun tidur. Beratnya lidahku untuk bergerak, mulutku untuk bersuara, begitu kaku dan berat rahangku untuk digerakkan, mungkin ini karena banyaknya dosaku...

Ya Allah, ampuni diriku, orang tuaku, keluargaku, pendahuluku, guru-guruku, teman-temanku, murid-muridku dan semua yang berhubungan denganku. Berilah diriku pemahaman yang benar akan hakikat akhirat-Mu. Sungguh aku tidak yakin dengan pemahamanku sekarang, amal ibadahku selama ini, bisa membawaku kepada Surga-Mu, berkumpul dengan keluargaku pendahulu. Aku tidak yakin, dengan semua kebingunganku aku bisa bertemu dengan-Mu, menatap wajah-Mu yang Agung, menikmati setiap anugerah-Mu sebagaimana yang Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang penuh kesyukuran, yang memahami dengan baik bagaimana mencintai-Mu dengan sebenar-benarnya, sebaik-baiknya. Sungguh, bahkan aku tidak tahu apakah aku pantas disebut Hamba-Mu…

Senin, 28 September 2015

Takdir Jodoh 2

Ini tentang guru saya, sebut saja Ustadz. Dosen filsafat lulusan doktoral Al-Azhar Mesir. Ahli tentang Syi'ah. Kau tahu, studi master dan doktoral di sana paling lama dibanding lainnya. Total bisa 9 tahun lebih. Hanya orang-orang telaten yang bisa lulus.
Beliau teman guru favorit saya yang sering saya ceritakan. Ketika di Mesir, ia ditawari menikah dengan seorang perempuan solehah oleh rekan-rekannya. Ia menolak halus. Ia sudah punya calon pilihannya sendiri.
Teman-temannya tahu potensi yang dimilikinya. Mereka tak patah arang. Mereka menghadap guru mereka di tanah air, yang juga guru si Ustadz. Mereka memohon, agar perempuan pilihan mereka, yang merupakan cucu sang kyai, sudi ditawarkan kepada temannya, si Ustadz.
Akhirnya, sang guru memanggil muridnya, si Ustadz. Memintanya dengan hormat. Ia tidak dapat menolak, ini permintaan gurunya. Ia sanggupi permintaan ini. Semuanya diserahkan kepada Allah. Allah Maha Adil dan Bijaksana, Ia mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya.
Guru saya berkata, perkara jodoh bukanlah hal yang bisa dicerna logika. Kadang tidak masuk akal jalannya. Memang, adakala kisahnya tidak seindah film telenovela. Seringkali alurnya tidak sedramatis cerita sinetron.
Tidak semua yang kita inginkan, khayalkan, impikan, akan terjadi. Apalagi jika bayangan yang kita reka mendahului takdir Allah. Kita tahu, yang paling mengerti skenario hidup kita bukan kita sendiri, tapi Allah.
Bagusnya, ketika kita meyakini Kuasa-Nya, meyakini kebijaksanaannya, maka segala kesedihan yang kita alami -karena kenyataan yang tidak sesuai angan-angan kita- menjadi lebih mudah untuk lekas sembuh. Larut dalam aliran kepasrahan, bahwa hidup haruslah kembali kepada-Nya, kepada ketentuan-Nya, kehendak-Nya. Apapun yang terjadi, semua untuk kebaikan kita...

Lebih Baik Jauh

Saya kenal seorang wanita. Lahir di awal Desember, golongan darah B, berasal dari keluarga militer, ayahnya seorang tentara, tokoh masyarakat yang dihormati orang-orang sekitarnya, ibunya seorang ibu rumah tangga.

Ia rajin, cantik, cekatan dan tekun. Masakannya lezat, tidak ada yang menandingi masakannya dibanding keluarganya yang lain. Hidupnya konsisten, istiqamah. Selalu shalat malam dan puasa sunnah.
Ia terkenal jaim. Tidak mudah bergaul dengan laki-laki. Sosoknya begitu misterius bagi orang-orang sekitarnya.

Aku kurang bisa berkomunikasi dengannya. Butuh kesabaran dan bahasa yang sederhana. Belum tindak-tandukku yang spontan sangat berseberangan dengan karakternya sering membuatnya panik. Jadi sering sekali aku menyembunyikan aktifitasku, yang penting beres dan aku tetap terlihat sehat dan gembira.

Aku tidak bisa berdiskusi banyak dengannya. Jika aku didekatnya, lebih banyak diam. Percakapannya pun standar nan kaku. Jika aku meneleponnya, yang paling penting bagiku hanyalah meminta doa kebaikan untukku.

Ia begitu mencintaiku. Begitu menyayangiku. Aku pun begitu. Aku tahu, rasa cinta ini tidak bisa diungkapkan dengan kata dan perilaku, tapi bisa dirasakan di hati.

Aku ingin selalu dekat dengannya, ia pun begitu. Namun perbedaan karakter membuatku lebih baik tidak terlalu dekat dengannya. Aku tidak sabaran. Jika terlalu dekat aku lebih banyak menyakiti hatinya.

Tuhan pun sepertinya mendukungku. Takdir menunjukkan aku selalu jauh darinya. Ia melemparku ke tempat yang jauh darinya. Sehingga aku hanya bisa bertemu dengannya dalam waktu yang relatif pendek. Cukuplah untuk melepas rindu. Mengobati rasa kangen di hati.

Dari total 26 tahun umurku. Hanya 12 tahun pertama saja aku hidup dengannya. Sisanya di pondok, atau di tempat kerja.

Dulu aku sempat malu dengan statusnya yang hanya ibu rumah tangga. Dibanding teman-temanku yang ibunya wanita karir. Aku menggerutu dalam hati, aku tidak mau punya istri sepertinya.

Seiring waktu, aku sadar itu salah. Kulihat aku dan saudaraku lebih sukses emosional dari pada teman-temanku. Bibi-bibiku iri, melihat kami yang tumbuh berkembang menjadi anak-anak yang tidak bermasalah. Aku berpikir, ada hal lain yang tidak terlihat yang istimewa yang membuat kami menjadi seperti ini.

Dan itu karena jasanya, doanya lebih mustajab dari orang-orang lain. Dalam kekakuan hidupnya, pasif dan monotonnya aktifitas, yang semuanya terlihat biasa, tersimpan amalan tak terlihat yang membuat para malaikat mengaminkan doanya. Tuhan pun menuntun kami dalam jalan yang lurus.

Ia, ibuku tercinta. Seluruh pengorbanannya dalam membesarkanku dan saudara-saudaraku tidak bisa diganti apa pun. Aku berdoa, semoga ia tetap dalam lindungan Tuhan, Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Minggu, 27 September 2015

Cincin Hitam

"Jadi, apa keputusanmu?"

"Tentang apa?"

"Kamu jadi nikah apa enggaakkk? Lama-lama bikin kesel juga ni orang!"

"Ahahaha... My decision?"

"Yes, your final decision."

"Sepertinya saya tetap akan menikah setelah kakak perempuan saya."

"Yah... mengecewakan. Endingnya jadi antiklimaks gini."

"Emangnya film!"

"Terus calonmu harus menunggu, dong?"

"Calon yang mana?"

"Aish!! Yang mana aja terserah deh!"

"Secara resmi untuk sekarang ini saya tidak mengikat siapa pun dengan istilah 'calon'."

"Secara tidak resmi?"

"Juga tidak. Jika pun ada yang ingin menikah dengan saya, saya tidak akan memintanya menunggu saya."

"Jadi sudah begitu saja? Tidak ada ikatan apa-apa?"

"Saya tidak suka dengan HTS atau LDR."

"Pyiuh... kau ini aneh ya... kau menyia-nyiakan cinta para wanita yang menyukaimu!"

"Nah sepertinya kau tahu kuantitinya."

"Yaiyalah. Jadi, apa yang akan kau lakukan?"

"Kamu kan tahu, kakakku pun belum jelas kapan menikahnya. Maka tidak mungkin saya meminta siapa pun untuk menunggu saya. Biarlah semuanya dikembalikan kepada Sang Pencipta Jodoh. Jika jodoh akan ada jalannya. Jika bukan jodoh, tidak akan ada jalannya."

"Sesimpel itukah pemikiranmu?"

"Jika berpikir rumit hanya membuat pusing."

"Kenapa patokannya jadi kakakmu?"

"Saya lupa dulu pernah berjanji untuk menikah setelah kakakku. Setidaknya menunggu batas usiaku hingga 27. Seandainya ia belum menikah setelah lewat batas itu. Saya mungkin baru akan menikah duluan."

"Janji seperti itu tidak ada dalam Islam, bukan?"

"Tapi tidak dilarang, bukan?"

"Ah terserah kamu saja lah!"

"Kamu harus mengerti, saya sering sekali membuat janji dan kulanggar sendiri. Setidaknya ada janji yang busa kutepati."

"Hemm... jadi statusmu tetap single ceritanya?"

"Yap, jika tidak, mungkin cincin hitam yang kukenakan ini sudah pindah tangan."

"Ke siapa?"

"Tunangan saya, siapa lagi?"

"Kenapa hitam?"

"Suka saja. One of my favorite colours, beside blue and brown."

"Suka-suka mu lah."

"Thank you."

"..."

"..."

"Tapi bisakah keputusan itu semua berubah?"

"Hanya Allah yang Tahu, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Sabtu, 26 September 2015

Definisi Kecantikan

"Apa yang menyebabkan para wanita asal daerahmu itu cantik-cantik?"

"Begitukah?"

"Ya, teman-temanku juga sependapat. Bukan hanya yang kelas sosial tinggi, seorang wanita cleaning cervice di stasiun kotamu pun cantiknya bukan main."

"Oh ya? Aku kira, ini hanyalah masalah tipografi daerahnya."

"Maksudnya?"

"Daerahku termasuk dataran tinggi yang sejuk. Cuacanya tidak panas. Ini membuat kulit kami putih-putih. Para wanitanya jadi terjaga kecantikannya. Bandingkan dengan di Jawa Tengah atau Timur, atau Jakarta yang panas, membuat kulit kering, gelap atau berminyak."

"Jadi hanya itu?"

"Sepertinya begitu. Kau tahu, biasanya, seorang anak memiliki wajah yang lebih tampan atau cantik dari orang tuanya. Jika hal ini berlangsung terus-menerus secara konsisten, tentu keturunannya semakin baik. Orang sunda, sudah terkenal cantik-cantik wanitanya sejak dulu."

"Karena faktor lingkungannya tadi?"

"Ya. Cobalah kau perhatikan orang asing yang tinggal di daerah yang dingin seperti Jepang, Korea, atau Eropa. Kulit mereka putih-putih."

"Jadi begitu..."

"Mengapa kau bertanya begitu?"

"Kadang aku ingin menikah dengan orang Sunda. Mereka cantiknya bukan main. Tidakkah kau juga berpikiran seperti itu?"

"Hemm... cantik itu relatif ya. Tapi aku akui memang mereka rata-rata lebih cantik daripada wanita di daerahmu."

"Tapi kudengar rumor menikahi orang sunda biayanya mahal, betulkah?"

"Yap."

"Heh?"

"Jika mereka berasal dari kelas sosial yang tinggi atau telah tersentuh budaya perkotaan modern."

"Maksudmu?"

"Yah... jika asalnya dari keluarga biasa-biasa saja, apalagi yang mengenal agama, plus bukan terbiasa hidup di budaya perkotaan yang butuh biaya hidup tinggi, mereka mudah diajak nikah tanpa syarat macam-macam. Apalagi yang dari desa, kau tahu, kecantikan mereka bahkan lebih alami dari rata-rata wanita sunda. Aku pernah pergi ke suatu gunung, semakin masuk pedalaman wanitanya semakin cantik."

"Hemm... gampang-gampang susah berarti ya milihnya?"

"Akan lebih baik jika dikembalikan lagi ke dirimu. Fokus memperbaiki diri, sisanya biar Allah yang menentukan yang terbaik untukmu."

"Kau mengatakan cantik itu relatif, memang kriteriamu seperti apa? Kamu mau menikah dengan wanita secantik siapa?"

"Kau tahu, cantik itu persepsi yang diterima seseorang ketika kecil dari lingkungannya."

"Dan persepsimu tentang cantik?"

"Sama saja mungkin denganmu. Dengarlah, itu bukanlah hal yang penting."

"Tapi kau ingin punya istri cantik, bukan?"

"Itu wajar, my friend... Bukankah kau tahu ketika kecil aku bermimpi tentang gadis Damaskus atau Palestina?"

"Ah iya..."

"Hanya saja, kusadari satu hal. Kecantikan bukanlah sumber kebahagiaan. Walaupun aku belum bisa menerimanya. Jika kita mencari istri yang cantik saja, maka semua itu akan pudar dimakan waktu. Kau akan kecewa."

"Yah yang penting agamanya dulu, kan? "

"Kau tahu, temanku pernah bilang, kecantikan seorang wanita itu berbanding terbalik dengan kecerdasannya. Aku pikir itu memang berlaku untuk rata-rata wanita. Tidak semua, tapi mayoritas."

"Wooo.... jadi kau pikir jarang ada wanita cantik yang cerdas? Ah.. itu pandangan picik temanmu saja."

"She is woman. Took it from a research."

"Ah.. meragukan."

"And she is clever, now studying her doctoral program."

"Bukan sentimen pribadi?"

"Aku pikir statemennya bisa divalidasi. Tidakkah kau kepikiran mengapa banyak wanita cantik imejnya hanya sekadar jadi model atau artis? Sedang wanita-wanita inspiratif -setidaknya yang kutahu- wajahnya biasa-biasa saja?"

"Tapi banyak teman-teman di kampusku yang cantik dan pintar."

"Pintar berbeda dengan cerdas."

"Apa bedanya?"

"Pintar bisa diupayakan dengan kesungguhan dan ketekunan. Cerdas itu anugerah Tuhan, sebagaimana kecantikan."

"Sebentar. Artinya jika tidak dapat wanita yang cantik dan cerdas, minimal dapat yang pintar saja tidak apa-apa ya? Haha..."

"Up to you... lagipula, tidak setiap pria butuh wanita cerdas yang genius, kalau tidak bisa mengimbangi juga malah tidak klop."

"Tapi ada benernya juga sih. Aku sering ngobrol dengan teman-temanku yang cantiknya minta ampun."

"Terus?"

"Tidak bisa nyambung kalau diskusi. Susahnya pun minta ampun, hahaha..."

"Maybe like that."

"Menurutmu apa yang menyebabkan mereka tidak cerdas."

"Mungkin mereka lalai. Terlena dengan kecantikannya hingga terlalu sibuk berhias diri. Lama berdandan. Di saat agama kita menganggap itu semua dapat mendatangkan fitnah dan mengajarkan opsi penggunaan cadar."

"Sepertinya kau tidak suka wanita yang lama berdandan ya?"

"I prefer natural, without make up."

"Aku ingin berasumsi."

"Silahkan."

"Tetap saja ada minoritas wanita yang Allah anugerahkan kecantikan plus kecerdasan. Mungkinkah wanita yang cantik plus cerdas itu yang tidak peduli bahwa dirinya cantik dan fokus mengembangkan kebaikannya. Inner beauty."

"Cerdas! Teruskan."

"Hemm... namun sepertinya ada yang dilupakan para pria."

"Tentang?"

"Bahwa setiap wanita itu merupakah anugerah Tuhan bagi pasangannya. Jadi tidak perlu dipersoalkan apakah ia cantik, cerdas atau pintar. Yang perlu ia lakukan adalah ketika ia sudah mendapatkan seseorang sebagai pendamping hidupnya adalah bagaimana caranya ia meperlakukan pasangannya sebagai yang paling cantik dan cerdas."

"Bijak sekali. Dan mungkin itu hal tersulit bagiku."

"Mungkin karena belum mengalaminya."

"Ya, aku doakan kita mendapat yang terbaik bagi kepribadian kita. Dan kita ikhlas menerimanya."

"Amin."

Minggu, 06 September 2015

Ego

"Kau masih ragu mengambil keputusan?"

"Tidak juga."

"Itu kalimat lain dari tidak yakin."

"Kau tahu, yang paling sulit untuk kita kalahkan ternyata bukan orang lain, tapi diri sendiri."

"Aku tak mengerti."

"Egoku tinggi. Seringkali aku berpikir, ingin membuktikan bahwa prasangka orang-orang itu salah. Dalam hal ini, aku ingin -jika diperbolehkan- menolak petunjuk Tuhan."

"Dan hidupmu hanya untuk dilihat orang lain?"

"Ya, sama seperti balas dendam, bukan? Artinya, justru rasa dengki yang tumbuh lebat dalam hatiku. Aku akan hidup dalam ketidakpuasan karena hanya ingin memuaskan hasratku membuktikan pikiran orang lain itu salah. Jadi, hidupku bukan untuk diriku. Aku malah hidup di bawah bayang-bayang orang lain."

"Baiklah, mari kita lupakan masa lalu. Apa idealismemu?"

"Maksudnya?"

"Apa cita-citamu saat ini? Dulu kau ingin sukses dunia-akhirat, jadi pengusaha, punya istri super, dan lain-lain. Sekarang?"

"Anak-anak."

"Maksudmu?"

"Sejak tahun lalu, pikiranku hanya terkonsentrasi dalam satu hal: bisa membuat anak-anak yang kudidik menjadi anak-anak yang bermanfaat bagi sesamanya. Aku tidak mau memikirkan materi lagi. Menjadi ini-itu, memiliki ini-itu. Semua bukan prioritasku."

"Hebat. Apa yang membuatmu melepas pilihanmu?"

"Jika aku mempertahankannya, lingkunganku tidak akan mendukungku meraih idealisme itu."

"Kenapa?"

"Aku hidup di lingkungan yang menitikberatkan materi. Dengan sensitifitas duniawi yang begitu mengikat diriku. Kau pikir, ada alasan lain 14 tahun aku lebih suka menghabiskan hidupku di pondok daripada di tempat tinggalku sendiri?"

"Alasan lainnya?"

"Mungkin karena aku lemah dalam mengubah lingkungan, aku cenderung ikut menjadi penjahat di lingkungan yang jahat. Jika aku memilih pilihanku, lingkunganku menuntutku untuk meraih kemapanan ekonomi, semua tentang materi. Dan itu bisa mencapai 3 tahun lagi. Artinya fokus hidupku bukan lagi anak-anak. Tapi bagaimana mencari kerja, demi istri, anak-anak dan keluarga. Bagiku itu tidak cukup. Aku tidak puas dengan hidupku. Pilihanku pun tidak bisa mengembangkan hidupnya dengan optimal."

"Nah, mari realistis, jika kau memilih pilihan Tuhan. Apa yang akan terjadi?"

"Aku akan hidup di lingkungan yang sangat berbeda sekali."

"Kenapa?"

"Karena orang-orang di lingkunganku akan mengalah dengan ketentuan-Nya. Mereka akan membiarkanku menjadi diriku sendiri."

"Apakah idealismemu bisa tercapai?"

"Ya."

"Maka apa lagi yang kau ragukan, bukankah jika kau yakin Tuhan telah memberimu petunjuk lalu mengapa kau mengingkarinya? Bukankah itu berarti kau tidak yakin bahwa Tuhan juga yang akan menjagamu, melindungimu dari segala fitnah dunia?"

"Ya, sepertinya aku tidak meyakini akan jaminan-Nya. Benar, bagaimana mungkin aku meyakinkan orang-orang bahwa ini petunjuk-Nya jika aku sendiri tidak mau mempercayainya."

"Maka, singkirkanlah egomu itu!"