Kamis, 14 Maret 2013

Karir di Pondok


Saya ingin berbicara tentang karir saya di Pondok. Lulus dari pondok yang berkurikulum KMI. Artinya sekolah yang dirancang agar muridnya bisa menjadi guru –tepatnya bermental guru, ada bedanya. Ada praktik micro teaching untuk para santrinya. Bagi wisudawan/wati yang terpilih, akan menjadi guru pondok. Beginilah kaderisasi pondok dengan idealisme terjaganya visi-misi pondok bisa tercapai. Dan saya pun terpilih menjadi guru Pondok.


Biasanya, guru baru tidak mungkin jadi wali kelas. Pasti guru angkatan kedua ke atas. Tapi saya terpilih menjadi wali kelas di semester 2 bersama seorang sahabat saya yang dulu ketua PTTI (setingkat OSIS dengan wewenang dan kewajiban yang lebih luas). Dan itu pun untuk anak-anak kelas 1  KMI (setingkat 1 SMP). Padahal wali kelas 1 biasanya diambil dari guru yang senior/ berpengalaman lebih karena memang di sinilah dasar penanaman akhlak anak begitu berpengaruh.

Entahlah apakah ini  gara-gara curhat kepada Tuhan ketika menyaksikan anak-anak kelas satu itu. Saya merasa sedih dengan kondisi mereka yang intelegensinya rendah. Ingin sekali mengajar mereka (ketika itu saya tidak mengajar kelas 1) Dan Allah mengabulkannya. Jadilah saya wali kelas 1 D dari 4 kelas yang didasarkan kemampuan akademik mereka. (FYI, kelasnya terdiri dari 1 B, C, D dan E. walaupun banyak pro dan kontra dalam sistem pengelasan secara grading, tapi sistem ini dibuat ketika itu untuk memudahkan guru mengajar anak-anak yang sudah belajar al-Qur’an atau belum. Saya dapat kelas D, sahabat saya dapat kelas E.)

Saya anggap tugas saya selama satu semester itu sukses. Ini berdasar perbandingan saya dengan tahun selanjutnya yang ternyata saya tetap menjadi wali kelas 1 (D lagi, tapi sekarang hanya 3 kelas; B, C, D. artinya saya ditempatkan di kelas yang nilai al-Qur’an siswanya paling rendah). Dan di tahun kedua ini saya merasa gagal menjadi wali kelas yang baik. Saya terlalu fokus mengerjakan tugas lain dan melalaikan kewajiban utama saya sebagai wali kelas. Saya tidak bisa seaktif ketika di tahun pertama.

Tahun ketiga saya tetap menjadi wali kelas 1! 3 tahun berturut-turut. Ketika biasanya karir seorang guru itu berjenjang, saya masih ‘istiqamah’ saja di kelas ini. Sahabat saya yang dulu wali kelas 1 itu di tahun kedua ‘naik’ menjadi wali kelas 2. Di tahun ketiga naik lagi menjadi wali kelas 3. Saya tidak akan mengeluh atau berpikir yang bukan-bukan. Tetap dengan pola pikir positif, mungkin ini adalah masa ‘bayar hutang’ saya yang kurang produktif ketika di tahun kedua. Saya menjadi wali kelas 1 B. Saya anggap ‘agak sukses’ (karena tetap berkesan di tahun pertama). Apa indikatornya? 2 anak terbaik saya memutuskan pindah ke pondok lain untuk meneruskan ‘karir’ mereka. Hahaha… aneh ya? Saya pikir tidak masalah selama mereka pindah bukan karena terkena masalah. Sepertinya saya sukses merangsang mereka untuk mencari ‘tantangan’ yang lebih baik dari Pondok saya. :D

Tahun keempat agak aneh. Saya pikir, paling akan langsung loncat menjadi wali kelas 5 dari 6 tingkatan yang ada. Ini disebabkan karena kemungkinan besar saya berada di pondok ini hanya lima tahun saja. Empat tahun membereskan kuliah sampai oktober, kemudian dilanjut sampai Juli 2014. Hitung-hitung menunggu akhir tahun. Biasanya, yang menjadi wali kelas 6 adalah guru yang berada di tahun terakhir. Selain itu, wali kelas 6 adalah biasanya terusan dari wali kelas 5, karena 2 jenjang ini biasanya berhubungan erat. Jadi dibutuhkan hubungan guru-murid yang intens agar diharapkan ikatan batin di antara mereka kuat.

Eh… tahunya ketika pembacaan wali kelas dari kelas dari kelas 1 sampai kelas lima nama saya tidak ada. Jantung ini berdegub kencang. Walaupun sebenarnya sudah diberi tahu, tetap saja nervous. Bapak Direktur membaca surat keputusan, “Wali kelas 6 B, ustadz A. Wali kelas enam C, ustadz A (lagi-lagi inisial awalnya sama).” Kedua-duanya dari angkatan 2008, wajar. Dan terakhir wali kelas 6 D, saya sendiri. Mati rasa sepertinya ketika itu. Hahaha…

Sudah terbayang apa yang akan dilakukan, acara-acara besar yang membutuhkan fokus all out seperti Panggung Gembira sekaligus peringatan 30 tahun pondok, seminar kelas akhir, pembuatan agenda dan album almamater, studi banding dan terakhir, wisuda.

Di lain itu, pikir saya, mungkin ini pertanda bahwa inilah tahun terakhir saya di pondok tercinta. Karena inilah puncak karir saya di pondok ini yang begitu cepat melajunya dibanding rekan-rekan saya seangkatan.
Saya mengerti mengapa mereka –dewan guru senior dan staff KMI- memilih saya menjadi wali kelas. Kepercayaan mereka bisa saya jawab di awal acara yang super berat, Panggung Gembira, sukses besar. Menjadi acara terbaik yang pernah saya lihat sejak saya datang ke pondok ini. Namun setelah itu saya drop, sakit, kena DBD, baru agak pulih langsung diserang campak, seminggu kemudian ditambah tipes. Sepertinya penyakit-penyakit sudah mengantri ingin berkenalan dengan saya. Ahahaha…

Tentu saja saya tidak akan mengeluh akan hal ini. Walaupun kuliah saya di semester akhir ini terganggu (baru satu kali masuk kuliah! ^_^a). Justru yang saya takutkan adalah saya menjadi seseorang yang mengemis perhatian dan pengasihan kepada orang lain gara-gara sakit ini. Selain itu, timbul di pikiran apakah lebih baik mengundurkan diri saja dengan keadaan saya yang 70% berada di atas ranjang daripada bersama mereka? Kasihan mereka tidak ter-cover dengan baik. Jika dulu bisa membangunkan mereka ketika subuh, memberikan pandangan tentang masa depan dan etika selepas shalat, atau bercanda-gurau melepas penat dan beban, bahkan mengecek hafalan qur’an dan kebersihan sehari-hari mereka, kini praktis sulit.

Walau saya tahu mungkin sakit ini hanya sebentar. Mungkin sebulan. Kemudian bisa beraktifitas kembali. Walau saya tahu yang bisa meng-handle manajemen intern mereka dalam mengadakan acara-acara selanjutnya adalah saya pribadi, tanpa bermaksud menyombongkan diri, karena memang bertahun-tahun pekerjaan saya di situ. Toh saya pikir dulu juga bisa memenej para murid tanpa harus jadi wali kelas. Itu yang ada dalam pikiran saya sekarang.

Saya ingin berbicara dengan pembimbing hebat saya, sekaligus menunggu badan lebih fit dari biasanya. Tak lupa berdoa semoga Allah memberikan yang terbaik. Saya belum tahu apa rahasia-Nya memberikan sakit ini. Hikma h apa yang bisa dipetik. Allah Maha Bijaksana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar