Selasa, 09 April 2013

Surat untuk Bapak Pimpinan


(Sebuah surat yang ditulis di pertengahan tahun 2011. Semua nama sengaja disamarkan)

Kepada yang terhormat Bapak Pimpinan Pondok
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bapak Pimpinan yang terhormat, kami pembimbing tim Debat Bahasa Inggris Putra Musabaqah Qira’atil Kutub se-Jawa Timur yang dilaksanakan di Kabupaten Probolinggo, sudilah kiranya Bapak membaca cerita kami dalam menghadapi lomba ini.


I.       Persiapan menuju lomba
Sebenarnya tidak ada dalam benak kami selaku pembimbing bahasa untuk ikut serta dalam lomba debat bahasa Inggris. Hal ini dilihat karena sudah lama sekali santri kami tidak mengikuti lomba tingkat provinsi. Tapi entahlah, Allah menakdirkan lain. Kementrian Agama kabupaten menunjuk pondok ini sebagai wakil dalam lomba MQK ke-3 dalam bidang debat bahasa Inggris. Mau tidak mau kami harus siap. Walaupun telat dalam mendaftar ke kantor Depag kabupaten.

Segera setelah mendaftar, kami mulai menyusun langkah, bertanya kepada ustadz senior seperti dan lainnya, tentang bagaimana mempersiapkan sebuah tim dalam debat. Semuanya harus direncanakan dengan matang. Maka jadilah program pembinaan intensif selama satu bulan penuh. Setelah itu, kami mulai mencari calon peserta lomba, kami kumpulkan semua santri dari kelas 4 dan 6 (setingkat kelas 1-3 SMA) yang berbakat dalam bidang bahasa dan pemikiran, karena memang dalam debat yang diutamakan adalah argumentasinya.

Maka terpilihlah tiga orang santri dari setiap kelas satu orang, kelas 4, kelas 5 dan kelas 6. Dari semua itu, hanya santri kelas 6 yang mempunyai pengalaman mengikuti lomba berbahasa Inggris. Selainnya mereka tidak mempunyai basic yang cukup dalam bahasa Inggris sama sekali. Lalu mengapa kami memilih mereka? Apakah ar-Risalah tidak mempunyai santri lain yang pandai berbahasa Inggris?

Sebetulnya banyak yang pintar bahasa Inggris, tapi kami sengaja mencari yang mempunyai pemikiran paling kritis. Selain itu, semoga dalam satu bulan pembinaan itu mereka bisa belajar bahasa Inggris dengan baik. Kami pilih satu orang saja yang pintar berbahasa Inggris agar mereka bisa menjadikannya contoh dan target yang harus mereka lampaui dalam berbahasa.

Ada tiga alasan mengapa kami memilih mereka:

Pertama, untuk menyalurkan potensi mereka yang terpendam. Mereka dikenal termasuk anak yang bermasalah. Bukan dalam artian negatif. Mereka dikenal sebagai tukang protes. Menanyakan hal-hal yang tidak pas untuk ditanyakan. Kadang guru-guru pun kerepotan dalam menjawab pertanyaan mereka. Melihat hal itu, kami yakin mereka cerdas. Hanya saja potensi kekritisannya tidak tersalurkan dengan baik. Jika dididik dengan baik, kami yakin kekritisan mereka akan menjadi nilai yang tak terharga dalam kemajuan pondok ini.

Kedua, bisa disebut juga rencana jangka pendek. Agar mereka bisa menjadi contoh bagi teman-temannya dalam berbahasa. Membantu teman-teman mereka dalam belajar bahasa, terutama bahasa Inggris.

Hasilnya dalam sebulan pembinaan ini adalah sesuatu yang mengejutkan. Mereka yang semula tidak bisa berbahasa Inggris, kini terampil bukan hanya berbicara bahasa Inggris, tapi juga berdebat. Ditambah pengalaman mereka bertarung dengan lawan yang tidak disangka-sangka sebelumnya ketika lomba. Membuat mental mereka semakin kuat. Kami bangga sekali dengan perkembangan mereka. Alhamdulillahirabbil’alamin.

Ketiga, rencana jangka panjang kami. Semoga mereka bisa meneruskan tongkat estafet perjuangan para gurunya dengan memberingan sumbangan yang berarti selepas lulus nanti. Hal ini mungkin agak sulit, dimana mereka sudah mempunyai komitmen untuk meneruskan studi di luar pondok. Tapi tidak mengapa. Biarlah Allah yang mengatur segalanya. Semoga pondok ini dihuni oleh guru-guru baru yang berkualitas dan mempunyai integritas tinggi dalam memperjuangkan kalimat Allah. Bukan hanya untuk materi. (Ketika artikel ini dipublikasikan, siswa kelas 6 terpilih menjadi guru di pondok dan dapat memberikan sumbangsih yang besar bagi kemajuan sistem di pondok walaupun hanya satu tahun)

Latihan kami lakukan secara intensif setiap hari, biasanya dimulai setelah jam 21.00 hingga larut malam (biasanya jam 12 malam). Mengadakan latihan tanding debat dengan pesantren lain yang bagus dalam bidang bahasanya. Dan kegiatan lainnya.

Yang mengejutkan adalah kami bisa melampau pesantren lain di kota ini. Kami yang biasanya di awal-awal latihan biasa mendapat banyak kritikan seputar bahasa lambat laun bisa memperbaiki itu secara cepat bahkan kami yang mengkritik mereka, argumen pun kami yang selalu menang. Ini menunjukkan betapa besarnya potensi yang dimiliki para santri kita.

Setiap hari, para santri peserta debat harus melahap materi yang berbeda yang membahas berbagai macam bidang, globalisasi, terorisme, sistem pemerintahaan, teknologi, pesantren dan lain-lainnya hingga 24 judul. Total sekitar 500 lembar artikel setebal 10 centimeter yang mereka pelajari dan diskusikan selama satu bulan itu. Banyaknya materi yang mereka kaji itu pula yang membuat argumentasi mereka kuat dan selalu menang dalam berdebat ketika berlatih dengan pondok lain.

II.     Menuju Lomba
Sebelum  berangkat, Bapak telah mengingatkan kami agar kami berangkat I’laaan likalimatillah, bukan untuk lomba semata. Sungguh hal ini kami sebagai pembimbing telah lupa akan tujuan itu. Yang kami pikirkan hanyalah latihan bahasa Inggris, apakah itu jadi ikut lomba atau tidak, atau apa tujuan kami ketika lomba tidak kami pikirkan sama sekali. Bagi kami sudah melihat perkembangan mereka dalam berbahasa sudah membuat kami senang. Adapun jika mereka ikut lomba dan bisa menang, itu hanyalah bonus semata.

Kami belum bisa memikirkan bagaimana caranya lomba dengan niat untuk dakwah. Tapi kami mengerti bagaimana berpikir karena Allah ta’ala semata. Maka Bismillahirrahmanirrahim… kami berangkat dengan nama Allah, bukan untuk lomba semata, apalagi juara ataupun hadiah. Semoga Allah memberikan kami sesuatu yang lebih bernilai dari itu semua.

Total peserta kafilah dari kota ini ada 22 orang. 10 orang peserta Lomba Qira’atil Kutub, 12 orang peserta lomba debat. Dari dua belas itu terbagi putra dan putri, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Untuk Debat Bahasa Inggris putra diwakili pondok ini dan putri diwakili pondok khusus putri. Sedangkan Debat Bahasa Arab diwakili pondok lain untuk putra dan debat bahasa Arab putri oleh pondok khusus putri lainnya.

III.  Lomba
Sore hari kami menginjakkan kaki di tanah Probolinggo, setelah 8 jam melakukan perjalanan darat, kami disambut hujan lebat. Hujan adalah rahmat dan berkah Allah. Semoga ini menjadi pertanda baik bagi kami.

Dua ribu peserta lebih dari 36 kabupaten dan kota berkumpul menjadi satu di Pondok Pesantren Paiton Probolinggo. Dibuka oleh Wakil Gubernur di Alun-alun Kraksaan. Berbagai macam pertunjukkan menarik ditampilkan. Mulai pesta kembang api yang sangat memukau hingga pertunjukkan live concert. Acara ini begitu meriah, hingga bisa disetarakan dengan MTQ. Selain itu, format lomba yang menggunakan standar IT membuat kami terkagum-kagum dengan canggihnya pelaksaan lomba dari mulai pendaftaran hingga lomba berlangsung. Semuanya tidak lepas dari kontrol teknologi yang selalu menampilkan informasi yang up to date. Total skor perolehan nilai bisa langsung disaksikan ketika lomba itu juga. ini menjadikan Lomba MQK di Provinsi Jawa Timur termasuk lomba yang menggunakan manajemen tingkat tinggi.

Selain itu, tidak hanya teknologi saja yang menonjol disini. Tapi kualitas peserta pun tidak main-main dalam mengikuti lomba. Begitu banyak yang berbakat sehingga persaingan begitu ketat. Maka tidak heran ada yang berkata bahwa lomba tingkat Jatim ini merupakan lomba terketat dengan banyaknya peserta yang hebat-hebat dibandingkan provinsi lainnya. Tidak hanya dalam bidang Baca Kitab Kuning, tapi juga Debat.

Kami melihat peta kekuatan penguasaan ilmu pengetahuan di provinsi Jatim ini bisa disebut merata. Terlebih dalam penguasaan bahasa Arab dan Inggris. Yang mengherankan adalah ketatnya persaingan lomba debat bahasa Inggris, baik putra maupun putri. Ini mengherankan sekali. Santri yang dulu identik hanya bisa baca kitab kuning saja kini fasih berbahasa Inggris. Bahkan jalannya debat bahasa Inggris lebih seru daripada debat bahasa Arab. Untuk yang satu ini kami memberikan catatan (walaupun bersifat praduga) mengapa debat bahasa Arab tidak seketat debat bahasa Inggris, yaitu:
-      
        Mayoritas peserta yang mengikuti lomba debat bahasa Arab adalah dari pondok salaf, yang dikenal dengan pengkajian kitab kuningnya yang mendalam tapi lemah dari segi aplikasi. Mereka paham akan nahwu dan sorof melebihi pemahaman santri pondok modern, tapi dalam hal kecakapan berbahasa secara aktif masih unggul santri pondok modern. Ini mengapa kota ini yang diwakili pondok modern khusus putri bisa memenangkan lomba debat bahasa arab putri.

IV. Pengalaman tak terduga
Jika saja niat kami berangkat tidak karena Allah, mungkin kami tidak akan mendapatkan pengalaman lebih dari yang kami kira. Jika saja niat kami hanya untuk lomba, mungkin kami tidak akan menemui hal-hal yang diluar dugaaan. Jika saja niat kami hanya untuk meraih juara, mungkin kami telah maju ke babak semifinal dan menjadi salah satu juara dari tiga besar. Tapi untung saja Bapak mengingatkan kami untuk selalu melakukan sesuatu karena Allah. Secara peringkat, kami hanya menempati posisi ketujuh. Tapi di luar itu, kami mendapat pengalaman yang luar biasa yang lebih berharga daripada sekedar meraih tropi dan selembar pengargaan.

Hari Senin
Dimulai technical meeting. Hal yang mengejutkan adalah adanya perubahan materi yang digunakan untuk lomba dari 24 judul menjadi 15 judul dan sebagiannya adalah judul baru. Tentu saja para pembimbing protes. Tapi juri berhasil meyakinkan para pembimbing bahwa ini adalah hal yang baik. Kami pun tidak terlalu memperkarakannya. Kami anggap ini tantangan bagi peserta. Pengundian dimulai, dan Bismillah… kami dapat judul baru, yang belum pernah kami pelajari, bahkan kami tidak mengerti apa maksud dari judul itu, “The Implementation of Inheritance by textual and contextual understanding.” Kami tanyakan kepada dewan juri apa maksudnya. Inheritance disini artinya Waris, alias hukum waris. Oh… kami baru paham.

Kami ber-husnuzhan, mungkin Allah telah menganggap bahwa anak-anak telah menguasai 24 materi yang ada sehingga Allah menguji mereka dengan diberi judul yang baru dan kami anggap paling sulit. Laa yukallifullah nafsan illaa wus’aha… itulah ayat yang pertama kali kami ingat. Secara sistem kami dirugikan dengan perubahan materi lomba. Ini tentu saja merugikan kelompok yang mendapat materi baru, persiapan mereka tidak seoptimal kelompok yang mendapat undian materi lomba yang lama. Yang tentu saja telah mereka pelajari dengan matang. 

Malam hari, ketika seluruh peserta, official (pembimbing), pantia, dewan juri dan lainnya berkumpul di alun-alun, tim dari ar-Risalah malah sibuk mencari materi debat di internet, kemudian mencari tempat untuk menge-print dan mencetak semua materi di tempat yang berbeda. Untungnya semua itu bisa diselesaikan hingga pukul sembilan malam. Setelah itu kami ikut acara pembukaan dan pulang ke pesantren Nurul Qodim untuk mempersiapkan lomba besok.

Hari Selasa
Mendapat undian giliran terakhir untuk kelompok putra di hari itu, berarti pertandingan diadakan setelah Zhuhur. Ini membuat waktu persiapan menjadi lebih banyak. Tapi di luar itu, konsentrasi anak-anak mulai pecah melihat penampilan tim-tim debat bahasa Inggris dari daerah lain yang hebat-hebat. Di waktu itu juga kami baru tahu anak-anak tanding melawan tim tuan rumah yang tidak resmi.

Semua tim debat bahasa inggris putra berjumlah 25. Ketika pengundian, kami tidak mendapat lawan. Akhirnya dicarikan oleh panitia tim tuan rumah. Secara sistem ini memang tidak sah. Hanya tim yang telah terdaftar yang boleh ikut lomba. Apalagi dalam kasus yang terjadi di lomba debat bahasa Arab putri dimana tim yang tidak mendapat lawan bertanding melawan tim juri. Bahkan ketua bagian Pontren kota kami protes kepada ketua panitia setelah lomba selesai, dan mereka pun telah meminta maaf atas hal ini. Hanya saja, semua itu tidak menjadi masalah bagi kami, toh memang kami mengharapkan hal yang paling menantang.

Tiba saat pertandingan. Anak-anak mendapat undian kontra. Ini artinya mereka harus mempertahankan pendapat bahwa Hukum Waris dapat dipahami secara Kontekstual.  Lomba dimulai dengan perkenalan sesama peserta. Kemudian tim lawan mengemukakan argumen awal. Disinilah awal lomba menjadi menarik. 

Ternyata pemahaman lawan terhadap makna “inheritance” tidak sama dengan yang dipahami anak-anak. Mereka memahaminya sebagai “heritage” atau warisan budaya. Maka yang dibicarakan adalah Reog Ponorog, Batik dan budaya lainnya. Hal ini tentu mengejutkan kami. Yang kami ketahui topiknya “Implementation of inheritance by textual and contextual understanding” berarti hukum waris, sesuai pula dengan yang dijelaskan juri sebelumnya. Kemudian istilah tekstual dan kontekstual hanya ditemukan dalam penafsiran ayat al-Qur’an dan Hadist. Maka jadilah debat terakhir di siang hari itu sebuah tontonan menarik karena kedua tim bukan mempermasalahkan isi topik, tapi judul topik. Dengan kengototan yang sama-sama kuat. Yang membuat kami bangga. Kami bisa melihat anak-anak dari ar-Risalah mengeluarkan segala kemampuannya untuk menghadapi tim lawan yang mempunyai kualitas bahasa lebih baik. Bahkan salah satu diantara lawan itu berstatus mahasiswa. Anak-anak tidak gentar melawan tim yang terus menjatuhkan mental mereka. Mereka memang sempat terpancing emosi, terdesak dengan argumen lawan yang terlihat meyakinkan. Tapi mereka bisa bangkit dan terus berjuang menghadapi lawan. Walaupun hasilnya adalah tim tuan rumah yang menang. dengan skor 267 banding 244 dan harus puas di peringkat ke-7. Tapi nilai kami termasuk besar dimana rata-rata tim debat lain hanya memperoleh nilai kisaran 200-230. Disini kami jelaskan situasi per individualnya.

Siswa kelas 6 (3 SMA)
Siswa kelas 6 B yang di organisasi mengurus bagian bahasa. Tampil sebagai pembicara utama. Kami mengharapkan banyak hal dari juara 1 Speech Contest se-Karesidenan ini. Tapi ternyata ia di saat-saat pertama berbicara telah terpancing emosinya dengan pernyataan lawan yang menjadi tim pro. 

Untungnya ketika menjadi pembicara penutup emosinya kembali stabil. Argumennya kembali kuat dan pembicaraannya menjadi tenang dan teratur. Membuat perlawanan timnya tidak sia-sia. Applause dari penonton banyak ditunjukkan untuknya.

Siswa kelas 4 (1 SMA)
Siswa kelas 4 B. Kami sedikit cemas dengan siswa satu ini. Karena memang selama latihan dialah yang paling lemah dalam bahasa. Kami takut serangan bertubi-tubi yang dilancarkan lawan membuatnya tidak bisa berbicara. Tapi kami lega. 

Tampil sebagai pembicara kedua, justru dia menunjukkan perjuangannya melawan argumen lawan. Bicaranya lantang dan panjang. Sangat berbeda sekali dengan ketika sesi latihan. Semangatnya begitu terlihat dengan pandangan yang tajam ke arah lawan. Padahal di awal latihan dia selalu berbicara dengan mengarahkan pandangan ke atas karena kesulitan berpikir dan mencari kosa kata bahasa Inggris.

Siswa kelas 5 (2 SMA)
Siswa kelas 5 B. walaupun secara non-teknis dialah satu-satunya anggota tim debat yang agak sulit diatur. Mungkin karena memang sudah tabiatnya seperti itu. Kami harus sabar mengarahkannya agar bisa berlatih sesuai dengan peraturan yang diterapkan. 

Walaupun sampai hari terakhir latihan kami dibuat kesal oleh tingkah lakunya, tapi justru dia yang memegang posisi kunci dalam pertandingan ini. Malah dia yang membalikkan kondisi mental teman-temannya yang labil karena terpancing dengan gertakan lawan menjadi stabil kembali. Ini membuat temannya yang kelas 6 yang tadinya emosi kembali tenang dan dapat menutup pembicaraan dengan baik. Kami tergetar mendengar argumennya yang singkat, jelas dan padat. Applause pertama yang begitu meriah dari penonton bagi tim kami. Kami terkesima. Ini karena biasanya ketika latihan pembicaraannya selalu melebar dan memutar-mutar. Tapi kini berbeda. Anak yang paling sulit diatur ini kini menjadi tokoh utama dalam pertandingan ini. Subhanallah… betapa Allah memberikan kelebihan kepada setiap hamba-Nya.

Kami menganggap, inilah pertandingan terbaik dari seluruh peserta debat. Baik segi teknis maupun teknis. Ini karena penampilan anak-anak yang all-out, tidak menyerah dengan keadaan yang ada. Tergetar hati kami melihat mereka berbicara dengan segala kemampuan yang mereka miliki, walaupun tidak sehebat lawan. Ini bahkan menjadikan mereka mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Bagi kami, ini menjadi motivasi untuk mengembangkan bahasa di pondok kita agar lebih baik lagi. Kami tidak memusingkan dengan ratusan artikel yang kami bawa dari Ponorogo sebagai bahan materi debat yang ternyata tidak terpakai. Kami juga tidak terlalu memikirkan bagaiamana materi yang kami cari dengan susah payah di malam pembukaan ternyata juga tidak terlalu terpakai karena pertandingan ini memperdebatkan judulnya saja, bukan materi. Toh kami niat kami mempelajari semua itu bukan hanya untuk lomba, tapi juga mencari ilmu yang memang tidak diajarkan di kelas. Insya Allah mereka telah memahami berbagai permasalahan di luar kepala mereka.


Selesaikah sudah?
Walaupun kami dipastikan tidak mengikuti semifinal, bukan berarti tidak ada lagi perkerjaan bagi kami. Ternyata Allah mempunyai rencana lain. Malamnya, kami masih harus membantu dan tim debat putri dalam persiapan mental dan materi. Ternyata mereka juga merasakan tekanan yang berat karena harus berdebat dengan judul yang baru juga. Untungnya kami memiliki referensi dan pemahaman tentang materi itu sehingga bisa membantu dan memotivasi mereka. akhirnya tim debat bahasa Inggris putri memenangkan pertandingan. Hanya saja nilainya tidak cukup bersaing untuk melangkah ke babak semifinal.

Kami bersyukur dididik oleh Bapak Pimpinan di pondok dengan pola yang khas dan berbeda dari pondok lainnya sehingga kami sedikitnya mempunyai mental untuk siap menghadapi segala perubahan. Menjadikan kami menjadi tidak mudah menyerah dan putus asa. Semoga ini bisa ditularkan kepada santri-santri kita.

Hari Rabu
Kami pikir hari ini sudah bisa menikmati sisa pertandingan dengan tenang. Ternyata tidak. Tim Debat bahasa Arab Putri lolos ke semifinal, tapi mereka tidak punya materi yang akan diperdebatkan.  Tapi kami mempunyainya dalam bentuk digital. Ini membuat kami masih harus pontang-panting mencari tempat penge-print-an dan berlari mengejar waktu menyerahkan materi. Sayangnya di semifinal ini tim debat bahasa Arab putri kalah. Tim lawan dari pamekasan unggul 3 point, dengan nilai 269 berbanding 266.

Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, sebagian peserta mulai beranjak istirahat, tapi masih ada juga yang melepas pegal mengobrol dengan sesamanya di malam yang tidak terlalu dingin ini. Kami pun masih duduk dan tidur-tiduran di teras kamar. Banyak yang tidur di luar juga. ini karena cuaca Probolinggo yang panas di siang hingga malam harinya. Mata kami pun mulai tertutup jika saja Pak Anton pendamping kami dari Kemenag kabupaten meminta bantuan untuk mencari lagi materi. Tim debat bahasa Arab putri masuk final, katanya.

Lho, bukannya mereka sudah kalah? Ternyata dari 6 grup debat putri yang lolos ke semifinal,  yang berhak lolos ke final adalah yang paling besar nilainya. Dan tim Pamekasan dan kota kami merupakan tim dengan nilai tertinggi. Maka mereka akan bertemu lagi di Final besok pagi. Maka malam itu, kami, anak-anak, dan tim Kemenag Kabupaten langsung meluncur ke tengah kota yang berjarak setengah jam perjalanan dari lokasi lomba. Disana kami mulai mencari materi kembali dan pulang jam dua pagi. Materi langsung diserahkan ke tim putri. Untungnya kami masih bisa melaksanakan shalat berjama’ah.

Hari Kamis
Kondisi kami, anak-anak sudah lelah. Sebagian memilih beristirahat. Tim putri bertanding dengan semangat. Dan mereka menang. yang tadinya kalah di semifinal, menjadi juara di final. Penonton pun heran dengan keadaan ini, bahkan sampai pembagian hadiah ketika penutupan acara. Kami pikir. Mungkin ini selain faktor usaha. Juga faktor doa yang kuat. Mungkin juga dari doa pimpinan pondok mereka yang juga sahabat Bapak Pimpinan.

Mungkin ini rencana Tuhan yang tepat bagi keadaan kami sekarang. Menjadi pemeran yang lebih banyak membantu di balik layar. Mungkin ini juga agar kami bisa kasak-kusuk sana-sini mempelajari hal-hal yang bermanfaat bagi kami, untuk perkembangan selanjutnya bagi diri kami, dan juga pondok tentunya. Karena memang jika niat kami hanya untuk juara, maka kami hanya akan fokus ke pertandingan saja. Tanpa memikirkan hal lainnya yang lebih berguna. Maka dari sini kami mulai paham maksud perkataan Bapak Pimpinan untuk berlomba I’laa an likalimatillah, dengan adanya lomba ini, menjadi wasilah bagi kita untuk membuat sistem yang lebih baik lagi bagi pendidikan kita di pondok, tiada lain jua untuk meninggikan kalimat-Nya. Alhamdulillah…

Apa yang kami dapat dari lomba ini?
Allah telah menganugerahkan kepada kita anak-anak yang luar biasa dan penuh bakat tanpa kita seleksi sebagaimana lembaga pendidikan lainnya. Kami melihat, betapa besar potensi yang dimiliki oleh murid-murid kita di pondok. Hanya saja kadang kita luput untuk memperhatikannya karena persoalan yang bersifat lahiriah saja. Seperti anak itu kelihatan nakal, susah diatur, sulit belajar, malas, dan lainnya.  Ini memang butuh usaha besar, kesabaran, dan ketaletan seorang guru untuk mendidik anak-anaknya hingga mereka bisa mengerahkan potensinya. Hanya saja, jika kami sebagai guru mempunyai pandangan yang sempit, hanya ingin jadinya saja, tanpa mau bersusah payah mendidik secara sungguh-sungguh. Maka anak-anak luar biasa itu akan terlantarkan hingga lulus nanti. 

Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan bimbingan yang berkelanjutan dari Bapak Pimpinan bagi kami, sehingga kami bisa mendidik anak-anak kami dengan baik dan benar.

Dengan adanya pembinaan yang intensif ini, membuka pola pandang yang baru bagi para peserta debat. Mereka menjadi paham nilai-nilai perjuangan di Pondok. Yang menggembirakan. Walaupun mereka tidak mempunyai rencana sama sekali untuk mengabdi di pondok. Tapi setelah adanya lomba itu, mereka memiliki keinginan untuk kembali ke pondok suatu saat nanti ketika mereka telah mendapatkan cukup ilmu di luar sana. Siswa kelas 4 yang dikenal pemalas pun sekarang telah berubah menjadi anak yang rajin belajar terutama bahasa Inggris, walaupun tanpa bimbingan guru-gurunya seperti biasa dilakukan sebelum lomba. Ini menunjukkan dengan pendekatan yang intensif dapat membuat anak sadar untuk belajar sendiri walaupun tanpa adanya guru.

Selain itu, dengan adanya lomba ini, menjadikan wawasan kami terbuka lebar tentang perkembangan ilmu pengetahuan di luar sana. Kami berharap kita bisa mengadakan lomba semisal yang menjadikan anak-anak pun mempunyai wawasan yang luas dan terbuka tentang dunia luar. Sehingga menjadikan motivasi bagi mereka untuk berpacu menjadi lebih baik lagi, tidak puas dengan keadaanya sekarang. Mungkin saja suatu saat pondok kita bisa mengadakan event yang dimulai dari skala regional, kemudian provinsi bahkan nasional.  Semoga Allah selalu memberikan keberkahan kepada Pondok ini.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

EPILOG

Our brother in Islam asked us, “Why did the Arabic debate team can be winner? Did their opponent not have a good match in quality with them? Or their team is indeed clever? Or the teaching system in their pondok is good?”

We said, “Nope, We think it is because the factor of Lucky and Strong Prayer, because the quality in mastering Arabic is relatively same with us.”

He said again, “Lucky and Prayer? Is there any factor of Pondok influenced it?”
We answer, “We think, this pondok is still better than all of representatives from Ponorogo (not for humiliating them). It is because of the fact that we helped the preparation of all debate team.”

He asked, “Actually, what does Pondok have? Good SDM or Good system?”

“Pondok has many good SDM, better than other, with big potency of each who stays in. We have many talented educators.”

“Good education system begun from the qualified educator, from the first.” He added.

“No, no, you don’t understand about it, we have many qualified educators, but we didn’t want to struggle ourselves in making good education all out.”


“Yes, I mean, the quality of educator determine struggle, effort, spirit, and inspiration for who are educated.” He replied.


“Our problem is, we have much potency, but we are lazy and unsure to muster all out our talent in educating the student.”

He asked, “So, how is the problem solving for it?”

“We must make commitment among us to instrospect our selves, repair our less and lack, and be confident that we are able to do it.” Wallahu a’lam.

1 komentar: