Sabtu, 17 Agustus 2013

WHAT’S NEXT!

Saya pikir, ini adalah bagian ketiga dari Repositioning of Love lalu (di link ini), tentang ‘Diri Ini, Dalam Titik Persimpangan’.

----------------------------------------------------------------------

(Ghafir: 44)

Beberapa teman, guru, dan keluarga bertanya dengan konteks yang sama, “What’s next?” Ya, apa lagi yang akan saya lakukan setelah selesai wisuda S1 ini. Setelah karir yang dirasa berjalan melesat dan saya pikir telah mencapai ending-nya (wali siswa kelas 6). Dulu, beberapa bulan yang lalu, diplomatis saya menjawab “Lagi fokus skripsi dulu, lihat sikon saja dulu, saya sih ngalir aja kali ya…” itu lebih baik daripada saya jawab “Ada dech… “ bikin kepo orang dan tambah gondok hatinya, hehehe… :D


Kini Skripsi sudah, wisuda tinggal menunggu hari, dan saya masih ingat ketika mengisi form pernyataan pengabdian ketika kelas 6 dahulu, di mana setiap santri ditanya mau ke mana setelah lulus, dan saya mantap menjawab “Mengajar sekaligus kuliah di Pondok, 4 tahun!”  Dan sekarang sudah 4 tahun. \(^o^)/ Arti lainnya, saya sudah 8 tahun di sini, nyantri modern. Tidak lama sih, dibanding teman-teman yang sampai 10-13 tahun. Total jenderal, 12 tahun saya menghabiskan waktu di pondok, separuh umur saya; 12 tahun di rumah, 4 tahun di pondok salaf yang berdisiplin bebas di kota saya, 4 tahun di pondok modern yang berdisiplin ketat di sini, dan 4 tahun ngajar sambil kuliah di sini juga yang saya rasa seperti hidup di pondok semi modern-semi salaf, karena disiplinnya yang terasa campur aduk ;D.
Sebetulnya tidak benar juga bahwa saya tidak pernah memikirkan bagaimana kelanjutan setelah ini. Jujur saja, karena otak saya telmi dan lelet :D maka setelah masuk pondok otak ini dipaksa untuk terbiasa mikir setiap detiknya. Ditambah kecenderungan otak kanan saya yang kaya imajinasi, plus karakter saya yang pendiam, maka aktifitas yang paling banyak dilakukan adalah berpikir (termasuk berkhayal, melamun kali ya :D) Maka planning bagaimana 20 tahun ke depan pun sudah pernah saya pikirkan. Bukan hanya plan A, tapi B, C, D dan seterusnya. 

Tidak perlu jauh-jauh, ketika menggarap skripsi pun kalimat pembuka tulisan ini telah terpikirkan, bahkan 3 judul sudah terpikirkan seputar skripsi, jodoh (maksudnya nikah :D) dan artikel ini sendiri. Belum niatan menggarap artikel ‘sunah’ lain seperti resensi buku yang baru saya baca ketika menggarap skripsi (tapi tidak ada hubungannya sama sekali dengan materi skripsi), atau resensi novel kisah nyata paling inspiratif dari Jepang, Totto-Chan, yang baru saya selesaikan bacanya hari ini. Bahkan dalam penulisan artikel ini, sudah terlintas tema lain yang ingin sekali saya tulis. Ah… Saya harap cukup dua artikel yang ‘wajib’ tadi saja yang bisa ditulis. Inilah otak saya. Saya sering tersiksa juga ketika tidak ada kerjaan maka otak ini tidak pernah berhenti berputar. ( -___-“)

Hanya saja, setelah 24 tahun -secara Hijriah 25 tahun- saya menjalani hidup ini, saya tahu, saya bukanlah tipe planning-eksekusi-berhasil. Seluruh planning saya melenceng sejak pertama kali dibuat ketika kelas 1 SMA (buku catatannya masih ada). Allah lebih tahu yang terbaik bagi hamba-Nya, walaupun saya tahu tujuan kongkrit saya gagal, tapi secara esensi, tidak. Artinya Allah menjawab doa saya dengan cara lain. Prinsipnya sama, kontekstualisasinya beda. Misal saya ingin ke universitas A, tapi ‘dikirim’ ke B, ternyata itu salah satu harapan saya ketika kecil dulu yang tidak terwujud. Esensinya tetap sama, saya bisa belajar masalah pendidikan yang baik, yang cocok dengan keadaan saya. Saya bersyukur dengan itu.

Maka kesimpulannya, saya tidak perlu memikirkan terlalu jauh mau bagaimana. Itu bukan tipe diri saya. Yang harus dilakukan adalah bagaimana mengerjakan sesuatu dengan sebaik-baiknya dan penuh perencanaan matang. Artinya planning hanya dilakukan terhadap pekerjaan yang benar-benar sedang digarap. Bukan yang belum atau masih di masa depan. Lagipula anda pasti sepakat itu menghabiskan waktu, bukan?

Lalu apa selanjutnya? Kalau sudah seperti tadi, berarti tidak perlu pembahasan lagi, bukan? Sudah selesai tulisannya, he..he.. Oke, sebetulnya beberapa planning saya terdahulu yang pernah terlintas di pikiran ini dapat digolongkan menjadi beberapa hal, mari kita cek satu-persatu:

  1. Keluar dari Pondok, kuliah S2 hingga S3, tapi balik lagi ke Pondok
Ini bayangan saya ketika dua tahun yang lalu. Walaupun banyak masalah yang terjadi di sekitar saya, tidak membuat saya ingin segera hengkang dari sini. Anehnya, justru saya menyukai tempat ini, betah tinggal di lingkungan yang bagi saya kondusif (walaupun secara cuaca tidak kali ya… hidung saya sensitif dengan cuaca dingin di kota ini, flu pun terjadi tiap hari, saya bahkan harus memakai masker selama ramadhan kemarin. Padahal di kampung halaman saya yang notabene dingin jarang sekali kena flu #curcol).

Justru saya prihatin dengan kondisi pondok saya sendiri yang masih dalam tahap transisi, membangun sistem yang stabil dan baku (karena memang masih baru). Saya tergerak untuk segera mencari ilmu yang lebih banyak lagi di luar sana, mau di dalam negeri atau luar negeri, kemudian kembali lagi ke pondok, persis seperti yang dilakukan senior saya (kisahnya di link ini). Belajar ke Mesir, kemudian mendirikan pondok di Sumatera, diangkat menjadi kepala jurusan di universitas saya menimba ilmu, tapi akhirnya malah memutuskan tinggal di pondok, mengajar baca tulis Arab ke anak-anak santri baru. Sesuatu yang wow bagi saya. Jarang sekali orang dengan ilmu seluas beliau mau cawe-cawe melakukan hal seperti itu, tanpa digaji pula! Beliau sekarang ketua yayasan pondok, yang setiap tahun memberi tandatangan persetujuan bagi guru yang ingin sertifikasi, tapi beliau pun belum pernah sertifikasi! Dan tidak ingin sama sekali karena menganggapnya merusak keikhlasan dalam berjuang. Subhanallah… speechless saya…

Saya ingin ikut membantu pondok, walaupun kemampuan saya pas-pasan, dalam hal apapun. Dengan harapan ilmu yang saya dapat bisa digunakan untuk membangun lembaga pendidikan serupa di tempat lain. Walaupun saya tahu kaderisasi akan selalu ada, akan selalu ada generasi baru yang membangun pondok ini, tapi saya merasa terbebani jika harus meninggalkan pondok ini sekarang, apalagi jika keluar karena kabur dari masalah, bahaya itu.

Saya jarang berbicara masalah pengabdian dengan keluarga di rumah. Karena memang karakter yang agak pendiam, ditambah dunia kerja mereka sangat berbeda 180 derajat dengan dunia saya di pondok. Saya bingung bagaimana menyatukan kedua pandangan yang berkebalikan itu. Maka saya pilih diam. Hingga suatu saat, jika saya bisa S2 hingga S3 lalu ditanya mau ke mana selanjutnya? Maka saya mantap menjawab, “Kembali ke Arrisalah!” dan berharap mereka (keluarga saya) pun paham ada sesuatu yang istimewa di tempat ini. Hmm… itu pikiran saya 2 tahun lalu.

  1. Tetap tinggal di Pondok, kuliah S2
Mungkin itu planning tahun depan seandainya masih di sini. Bagaimanapun juga, saya belum bisa membayangkan bagaimana rasanya meninggalkan pondok ini. berat. Tapi ketika berbenturan dengan banyak masalah, ingin segera keluar :D. Tapi (banyak tapinya yak!) jika terlalu dalam berada di kubangan masalah, justru saya malah kasihan, ingin lebih lama tinggal di pondok, bertahan lebih lama lagi. Sekalian S2 di sini. Nikah? Sabar… tunggu pembahasan selanjutnya.

  1. Tetap tinggal di Pondok, bukan usaha, dan nikah :p
Saya kuliah S1 diumur 20, terlalu tua bagi kebanyakan orang. Maka ketika kuliah sebenarnya agak tidak enak untuk meminta jajan ke keluarga. Karena memang yang menanggung biaya sehari-hari adalah kakak laki-laki saya. Dulu saya termasuk pribadi yang mencemaskan banyak orang. Karena sering membuat ulah dan kesalahan. Saya tidak mau berbuat kesalahan lagi dalam kuliah ini. Maka saya memberi garansi kepada mereka bahwa pemberian jajan sehari-hari hanya hingga wisuda S1 saja, di bulan September. Selebihnya biar saya hidup dengan uang tabungan yang ada. Jika saya tidak wisuda tahun ini, maka tidak perlu dibiayai, biarkan saya yang menanggungnya.

Setelah lulus di usia 24 tahun, rasanya malu untuk meminta biaya lebih –misal- untuk lanjut S2. Menimbang biaya kuliah yang tinggi (S1 biaya kuliah per semester ditanggung pondok). Walaupun saya tahu kakak saya sebenarnya mampu untuk itu. Maka saya putuskan lebih baik membuka usaha, bukan? Memulai magang di tempat kerja senior, kemudian membuka usaha sendiri hingga mampu menyiapkan diri untuk menikah.

Bagaimana dengan tabungan? Ah… saya termasuk boros. Huff… entah kenapa gatal sekali tangan ini untuk bersosialisasi, menggunakan uang yang ada (itu yang melatarbelakangi pendirian A***** Foundation). Jadinya tidak ada tabungan kecuali sedikit.

Lalu jika telah memulai usaha, dengan siapa menikah? Baca di artikel selanjutnya ya… Insya Allah (mulai sifat ngeselinnya keluar, don't be kepo!)  ^_^

Saya tidak tahu bagaimana pikiran selanjutnya, mana opsi yang terpilih. Sebari berusaha dan berdoa yang terbaik. Pikiran pasti ada. Tapi saya tidak mau tergesa-gesa menuliskannya di sini. berkoar-koar untuk sesuatu yang belum dilaksanakan itu tidak baik. Dan biasanya -pengalaman saya- akan gagal. Jadi bersabar saja, lihat keadaan selanjutnya. Saya juga tidak tahu perasaan terhadap pondok ini apakah tetap sama atau tidak satu tahun ke depan. Apakah pandangan saya tetap dengan kacamata yang sama. Atau bahkan berbeda. 

Karena memang, kondisi telah berubah, teman-teman terbaik telah pergi. Biasanya, bukankah kita butuh dream team dalam menjalankan suatu pekerjaan? Bagaimana jika tim yang kita impikan hilang? Bagaimana jika mentor yang selama ini kita percaya kini berubah sikapnya? Hingga rasa ragu dan kecewa muncul? Jika anda yang mengalaminya, akan bagaimana?

Sebagian teman saya mundur, sebagian lagi bertahan dengan terpaksa, lalu saya sendiri? Untuk saat ini, saya tidak perduli itu. Datang dan perginya seseorang karena takdir Tuhan. Ketika kita telah berusaha mempertahankan mereka dan jika memang mereka harus pergi, itu memang takdir-Nya. Selama saya berharap kepada-Nya, saya tidak akan kecewa dan putus asa ditinggal mereka, karena masih ada Allah yang menemani…

Menurut anda, jika menjadi saya, sebaiknya saya memilih apa? :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar