Selasa, 17 Desember 2013

Belajar Dari Kegagalan

Originally written on January 22, 2013

Tidak bisa dihitung berapa kali saya mengalami kegagalan. Dari SD hingga SMA, bahkan kuliah. Apapun program yang saya lakukan, amanah yang saya emban, sebagai pemimpinkah, penanggung jawabkah, biasanya gagal.

Bagaimana rasanya? Malu kepalang tanggung. Sakit hati tiada tara. Membuat hati minder sehingga menegaskan diri ini tidak mampu untuk bekerja. Akhirnya saya yakin bahwa setiap hal yang saya lakukan tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik. Bahasa saudara saya, apa yang saya lakukan memang selalu salah.

Selesaikah sudah? Tidak. Sebagaimana pepatah mengatakan, Kau adalah apa yang kau baca. Karena banyaknya buku-buku motivasi yang saya baca. Bagaimana berpikir besar dan bijaksana. Akhirnya justru kegagalan itu menjadi hikmah tersendiri bagi saya.

Saya menjadi perhatian terhadap detail-detail kecil. Karena hal itu ternyata yang mengantarkan kita kepada kesuksesan. Saya menjadi paham untuk menghindari kegagalan yang kesekian kalinya. Karena saya pernah mengalaminya berkali-kali tentunya.

Saya yang tidak kreatif dan visioner terhadap semua kemungkinan buruk yang bisa diantisipasi, malah punya banyak pengalaman untuk menghindarinya lain kali. Minimal  menjadi siap jika hal yang buruk itu terjadi. Itu semua karena saya pernah mengalaminya. Berkali-kali.

Menjadi idealis bukan berarti tidak realistis. Dalam mengerjakan suatu program. Saya menetapkan suatu program. Dengan cita-cita idealnya seperti apa. Tapi juga membayangkan yang terburuk jika gagal. Ini realistis. Sesuatu yang dihindari kaum muda.

Membayangkan hal yang buruk menjadikan saya siap menghadapinya. Sekaligus mengencangkan kedekatan kepada Sang Pemilik Takdir. Mengapa? Karena ini membuat saya banyak berdoa dan berharap kepada-Nya agar hal yang buruk itu tidak terjadi.

Bagaimana jika hal tersebut tetap terjadi? Mungkin hal itu memang yang terbaik untuk saya. Mungkin hal itu juga karena memang persiapan saya yang kurang matang. Setidaknya, saya tidak akan menyalahkan orang lain karena sudah mempersiapkan resiko ini.

Tapi juga, jangan terlalu memikirkan yang buruk karena hanya mendorong kita menjadi pesimis. Dasar kita tetap optimis. Bahwa semuanya mungkin. Bahwa kita akan sukses jika kita yakin itu sukses. Tanpa dasar keyakinan ini. Kita hanya akan terombang-ambing dalam bayang-bayang kegagalan. Dan jadilah kegagalan itu benar-benar terjadi.

Maka, tetaplah yakin bahwa semua hal bisa dilakukan. Yakinlah bukan karena diri kita saja. Itu sombong. Tapi karena ada Yang Maha Kuasa yang siap membantu kita dengan caranya yang sangat canggih dan tidak terduga-duga.

Memasrahkan semuanya kepada-Nya akan hasil yang akan diperoleh. Membuat kita selalu bersyukur terhadap segala yang terjadi. Selain itu, membuat kita dapat menangkap hikmah yang terdapat dalam suatu peristiwa. Sesuatu yang sering dilewatkan orang lain.

Hikmah adalah milik mukmin yang tercecer. Jika engkau melihatnya di jalan, ambillah. Hanya saja, jarang ada yang melihat hikmah karena pola pandangnya yang sempit. Jadi, saya akan belajar terus mengenai kegagalan agar bisa memungut setiap hikmah yang tercecer di jalanan. Anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar