Senin, 10 Februari 2014

Siapa Ahmad Yathir Fauzan? (Part 2)

Kepada: 
Yth. Wali Kelas X Akselerasi
di tempat

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dengan adanya surat ini, kami ingin memberitahukan bahwa:
nama: Muhammad Axxxxx Bxxxx
kelas: X Akselerasai

tidak dapat mengikuti kegiatan belajar sebagaimana mestinya dikarenakan sakit.
Mohon agar bapak/ibu guru dapat memakluminya. 

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Sxxxxxxx, xx Januari 2004


Ahmad Yathir Fauzan


Surat yang simpel, bukan? Sadarkah anda bahwa penulis surat tersebut adalah orang  yang sama dengan diijinkan? Itulah saya ketika dulu.

Frase "Ahmad Yathir Fauzan" sebetulnya sangat cantik (lebay). Karena merupakan frase satu kalimat lengkap dalam bahasa Arab. Disebut jumlah fi'liyah. Kalau di bahasa Indonesia seperti SPK. Arti namanya sendiri "Orang yang terpuji terbang dengan kemenangan". Memang nama saya tidak terlalu nyambung dengan nama aslinya. Niat awalnya membuaat nama alias/arab dari nama asli saya. Muhammad-nya jadi Ahmad. A-nya jadi Yathir, B-nya jadi Fauzan. Tentu saja Yathir itu terjemahan yang ngawur. Karena memang ketika itu saya tidak terlalu ngeh bahasa Arab. Cuma asal bunyi aja dah yang penting enak didenger :D . B jadi Fauzan pun salah secara bahasa. Mestinya farhan. Yah namanya juga anak-anak :D

Ketika itu saya sedang tidak ada mood masuk kelas. Seminggu bisa 1-2 kali... (coba tebak).... masuknya saja! Paling sering hanya satu kali masuk. Kalau tidak hari sabtu, ya hari jum'at. Biasanya saya ketika itu merasa sedang sakit pikiran. Merasa pusing sendiri. Banyak masalah dan segala kelebayan hidup ketika itu. Akhirnya saya titip surat ke teman saya. Karena namanya juga sedang stress, saya anggap surat saya tidaklah salah. Bukanlah kebohongan. Karena memang saya sedang sakit (pikiran dan hati) dan nama yang mengirim adalah nama samaran 'saja'. Tidak ada embel-embel keterangan "bahwa anak saya" atau "bahwa saudara saya" dalam paragraf pertama surat itu, bukan?

Belakangan -tahun-tahun ini- saya menyadari memang itu bukanlah kebohongan. Tapi jelas itu penipuan! Semoga guru saya memaafkan saya. :) (FYI 2 tahun lalu saya silaturahmi ke wali kelas saya ketika lebaran. Sebelum pulang ke Ponorogo lagi. Semoga silaturahmi itu menghapus dosa saya. Orangnya baik, sangat perhatian dengan saya. Walaupun tipenya jutek dan jaim -mungkin- bagi sebagian siswa. Tapi mungkin karena sifatnya yang agak sama dengan saya sehingga saya merasa klop dengan beliau :D)

Nah itulah nama alias saya. Kamu punya cerita juga? He..

****
Entah kenapa betapa PeDe-nya saya menceritakan masa lalu seperti ini. Tapi seperti kata pepatah, "Orang yang telah memaafkan masa lalunya bisa dilihat dari cara menceritakannya kembali dengan penuh riang, seakan sebuah candaan." Quoted by me, he...he... Tapi beneran saya pernah membaca yang seperti itu, cuma lupa kata-kata aslinya. End.

1 komentar: