Senin, 09 Maret 2015

Ke mana nanti?

Saya lahir di Bandung, 5 bulan kemudian pindah ke Sumedang. Masa kanak-kanak saya cukup menyenangkan. Bermain permainan tradisional. Berolahraga sepuasnya dari pagi hinggal sore. Kejar-kejaran di malam hari. Pergaulan yang mengasyikkan bersama teman-teman. Nyaris tidak ada sisi negatif yang didapat. Paling tentang video porno. 1 kali. Itu yang paling parah, karena terekam di memori masa kecil.

Tahun berganti. Saya naik kelas 5. Kehidupan mulai berubah. Teman-teman mulai sibuk dengan urusannya sendiri. Pergaulan buruk seperti miras menyebar. Allah sepertinya paham, ini tidak baik untukku. Datanglah kakak perempuanku yang baru selesai mesantren di Jawa Tengah. Membawa peraturan baru. Ketat ala pondok. Hari-hari kuhabiskan hanya di rumah. Jam bermain dibatasi. Itu pun sambil membawa kartu hafalan bahasa Inggris yang harus kusetor maghribnya. Aku tersiksa. Setiap malam kuratapi hidup ingin kabur keluar rumah. Biar mereka panik dan menyadari bahwa yang dilakukan kakakku itu salah. Kejam. Tapi tidak pernah hal itu terjadi.

   
Pelampiasanku pada buku. Kulahap semua buku-buku yang ia bawa. Tentang kisah-kisah teladan. Kadang humor Islami. Satu yang tidak habis. Sirah Nabi Muhammad karangan Haekal, hanya sampai setengah. Sekarang kupikir mungkin Allah paham. Buku ini tidak baik untukku. Karena ternyata buku itu ditulis oleh seorang liberal. Eh tapi itu bukan kakakku yang beli. Ternyata bapakku.

Saya lulus SD dengan nilai tertinggi. Tentu jika bukan karena jasa kakakku tidak mungkin dapat nilai tinggi. Biasanya di kelas jika tidak ranking terakhir ya tidak dapat ranking. Aku masuk SMP favorit. Keadaan pergaulan rumah sudah tidak bagus. Allah Maha Tahu. Bapakku membawa saya ke Pesantren tradisional dekat SMP. Saya terkejut dengan bahasa Sunda yang mereka gunakan. Sangat asing. Kupikir bahasa Sunda yang biasa saya pakai itu bahasa standar. Ternyata bahasa kasar. Di pondok inilah saya mulai terbiasa mendengar dan bercakap-cakap dengan bahsa halus.

Saya lulus SMP. Masuk SMA terbaik. Duduk di kelas terbaik. Tapi pergaulan jelek. Terjebak dalam cinta monyet yang memabukkan. Studi kacau. Orangtua dipanggil berkali-kali oleh sekolah. Pesantren pun sepertinya kesulitan membimbing saya yang sudah menjadi wakil ketua organisasi pesantren. Saya bertindak sesuka hati. Kakak perempuan saya bermimpi. Seorang bijak memberitahunya, berdasar kitab al-Hikam yang mashur penuh hikmah; saya telah mati hatinya. Kyai saya menasehati, inilah saatnya untuk hijrah. Kembali pindah ke tempat yang lebih baik. Untuk diri saya.

Saya 'terlempar' ke Pondok Modern nun jauh di Jawa Timur; Ponorogo. 4 tahun mondok. Mendapat didikan keras. Keras dalam arti sebenarnya. Ketika itu hukuman yang melanggar peraturan adalah fisik. Pukulan, tamparan, sabetan, cambukan adalah makanan sehari-hari. Ini untuk menguatkan jiwaku. Lulus dan terpilih menjadi guru. Kuhabiskan hampir 6 tahun di sini. Hidup dengan disiplin yang lebih lunak. Seperti perpaduan antara Tradisional dan Modern. Tempat yang benar-benar cocok untuk melatih mental diriku yang dulu kacau dan rusak. Belajar menjadi orang tua. Menyikapi anak yang bermasalah dengan sabar dan bijak. Karena memang kekerasan fisik sudah dilarang. Zaman sudah berubah.

Hanya 12 tahun saya di rumah. Sisanya hampir 14 tahun kuhabiskan diri di lingkungan pesantren. Sempat terpikir untuk pulang dan kerja di Sumedang. Sebari mengajar di pesantren dahulu. Kulihat kembali. Ternyata pesantren telah berubah. Tidak seideal dulu kala. Apalagi Kyai saya telah berpulang. Saya pikir, akan sulit untuk bertahan di tempat ini dengan kondisi saya sekarang.

Setelah itu, pernah terpikir untuk menjadikan kota ini tempat menua bersama pasangan hidup. Tetap mengabdi mendidik anak-anak menjadi kader umat Islam. Walau tidak selamanya. Hanya mencari bekal untuk mimpi masa depan. Namun hidup siapa yang tahu. Melihat keadaan pondok yang terus berubah. Semakin dalam kuselami, semakin sulit bernapas. Dinamika pemikiran saya dan keluarga yang berbeda. Semakin melangkah jauh, semakin banyak kuketahui; dunia ini semakin rusak. Diriku tetap diriku yang menyandarkan hidup pada petunjuk Tuhan. Jika memang tempat ini tidak lagi baik untukku, mungkin Ia akan melemparku kembali ke tempat lain.

Saya semakin memahami, diri ini bukanlah tipe planner jangka panjang. Apa yang akan dilakukan tahun esok, puluhan tahun ke depan, saya tidak tahu. Saya hanya punya mimpi. Dan semua mimpi saya dikoreksi oleh-Nya satu per satu. Tidak ada yang benar-benar sesuai. Saya seperti air yang mengalir. Kalaupun harus membuat planning, itu berarti hanya benar-benar bisa dikerjakan sekarang. Atau minggu depan. Paling lama even 1 bulan ke depan. Itulah saya. Beberapa orang menyebut saya qadariyah, atau fatalis. Saya tidak tahu. Bahkan tidak paham apa maksudnya. Yang disadari, saya hanya bisa bertawakal, menyerahkan segalanya kepada Allah.


Jadi, ke mana diri ini selanjutnya? Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar