Jumat, 17 Juli 2015

Pernahkah?

"Pernahkah kau mengecewakan seseorang?"

"Kenapa?"

"Dulu saya pernah kecewa berat dengan seseorang."

"Terus?"

"Saya marah, tapi setelah itu saya berpikir, mungkin itu karena saya terlalu berharap kepasanya, bukan kepada Allah."

"Lalu?"

"Emosi saya untuk kesal kepadanya menghilang. Berbalik kepada pertanyaan yang muncul di dalam benak saya, bagaimana jika saya berada di posisinya? Apa rasanya menjadi orang yang mengecewakan? Suatu saat nanti bukan tidak mungkin saya berada di posisinya."

"Lalu?"

"Tahun ini sepertinya saya lebih banyak mengecewakan orang-orang."

"Dan rasanya?"

"Seperti orang brengsek."

"Terus?"

"Saya bersyukur kepada Allah yang telah memberikan bulan puasa kali ini. Jujur saja, sebetulnya tidak ada niatan pulang cepat. Tapi karena permintaan keluarga, bahkan hingga menjemput jauh-jauh ke sana. Seandainya saya tetap di sana, saya tidak akan bisa fokus beribadah, meminta ampun terhadap segala kesalahan saya, terutama terhadap orang-orang yang saya lukai hatinya."

"Segitu dalamkah?"

"Saya membuat seorang murid yang bertalenta, yang digadang-gadang menjadi penerus saya di sana, sakit hati. Berbalik membenci saya. Bahkan sepertinya semua sifat buruknya keluar. Saya membuat satu almamater kecewa, dengan kebijakan-kebijakan yang saya buat, hingga akhirnya potensi yang mereka punya redup, tidak termaksimalkan. Saya membuat hati seorang wanita hancur, menghilangkan semua harapan-harapannya..."

"Lalu?"

"Semoga kebaikan selalu bersama mereka, semoga Allah selalu melindungi mereka, hingga tetap berjalan di jalan-Nya yang lurus. Semoga para malaikat menyampaikan doa ini kepada Allah yang Maha Pengabul Doa, mengaminkannya, dan menjadi saksi bahwa doa ini keluar dari penyesalan yang paling dalam, bahwa semua yang kulakukan bukanlah niatan untuk menyakiti mereka, tapi semata-mata untuk kebaikan mereka. Mungkin banyak cara saya yang salah, semoga Allah mengampuni dosa saya..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar