Kamis, 23 Juli 2015

Realisme Idealitas Cinta

"Haha..."
"Lho kok ketawa?"
"Dilematis ya?"
"Maksudmu?"
"Dulu saya pernah marah-marah kepada teman dekat saya. Hingga ia menangis."
"Sebabnya?"
"Karena ia tidak menuruti perintah gurunya. Ia keluar dari pondok karena tidak betah. Saya perintahkah untuk balik lagi."
"Terus?"
"Kini saya menghadapi masalah yang sama. Saya diminta suatu hal oleh guru saya."
"Tentang?"
"Pasangan hidup."
"Kamu suka?"
"Entah. Tidak tahu. Masalahnya rumit sehingga tidak sempat bagiku bepikir apakah aku menyukainya atau tidak."
"Ya kan nanti bisa datang dengan sendirinya..."
"Ya, aku pun sudah beritikad tidak akan jatuh cinta lagi kecuali setelah menikah."
"Hebat! Lalu rumitnya di mana?"
"Mana yang akan kau pilih, antara pilihan pertama di mana pernah-merasa-suka tapi sepertinya tidak cocok. Dengan pilihan kedua belum ada rasa suka tapi merasa cocok?"
"Hemm.... suka datangnya dari hati."
"Kalau cocok?"
"Dari pikiranmu, instingmu."
"Jadi mana yang lebih baik?"
"Tergantung keyakinanmu."
"Gitu ya? Ahahaha...."
"Lah malah ketawa!"
"Ketawa meringis. Kupikir harus yang berpadu antara keduanya."
"Kadang realitanya tidak seperti itu."
"Mana yang lebih realistis, hati atau pikiran?"
"Kupikir hati sumber dari idealisme."
"Maksudmu yang sesuai dengan pikiran yang lebih realistis?"
"Aku pikir jelas."
"Jadi tetap realitas yang harus dipilih?"
"Bisa jadi, untuk kebanyakan hal."
"Kenapa semua orang yang kutemui hampir menjawab dengan jawaban yang mirip. Sepertinya aku belum bisa ikhlas melepaskan..."
"Yah... jika masih merasa terpaksa, sabar dulu saja. Minta petunjuk kepada Allah."
"Itu pasti."
"Sisanya, biar Allah yang mengurus..."
"Begitu ya? Baiklah... Bismillah..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar