Selasa, 11 Agustus 2015

Orang Kuat

Saya pernah mengenal seorang wanita. Cantik, pintar, solehah, penghafal al-Qur'an, mandiri secara ekonomi. Pernah satu pondok. Saya melihat, ia satu-satunya guru perempuan yang lulus 'uji kualifikasi' pondok. Hanya sedikit yang bisa seperti itu dari seluruh guru putra dan putri. Guru putranya bisa dihitung jari. Memang seperti apa 'uji kualifikasi' di pondok? Seperti yang pernah saya jelaskan dulu. Belumlah dikatakan sebagai guru yang teruji jika di pondok belum pernah dimarahi di depan umum. Ya, ia pernah kena marah wakil direktur di depan para guru putra dan putri, juga santri dan santriwati.

Hidupnya di 2 tahun terakhir di pondok penuh masalah. Karena bagian yang ia pegang ketika itu memang bagian paling sibuk. Tekanannya paling banyak. Ia sering menangis. Tapi tangisan seorang wanita bukan menunjukkan kelemahan, bukan? Itu menunjukkan kekuatan sebenarnnya. Saya pikir, ia ditakdirkan untuk menjadi orang hebat suatu saat nanti...

Ia pernah kenal seorang pria. Berharap dalam doa agar ia bisa bersama dengannya dalam ikatan yang halal. Merajut mimpi-mimpi bersama dalam bingkai pernikahan. Saling berbagi suka dan duka. Membangun bahtera rumah tangga sebagai perjuangan mendapat ridho ilahi.

Sayang, mungkin ia salah mengenal pria. Mungkin juga Tuhan menakdirkannya bertemu dengan pria ini agar ia melewati suatu proses penyempurnaan kedewasaan. Seluruh ujian dari luar bisa ia lewati, kini ujian dari dalam yang ia hadapi, ujian hati.

Bagaimanapun niatan baik pria ini, selalu membuatnya sakit hati. Tingkah lakunya selalu mengundang pertanyaan. Tutur katanya membuat banyak penafsiran dan salah paham. Alih-alih bahagia, wanita ini selalu mendapat kekecewaan.

Pria ini sadar diri, sesuka apapun rasa yang ia miliki, itu hanyalah perasaan semata. Pernikahan tidak hanya dibangun atas dasar cinta. Karena banyak pernikahan gagal diawali oleh cinta yang menggebu. Maka pria itu mundur. Melepasnya. Tidak ingin lagi terus-menerus menyakiti lagi hati wanita yang lembut itu.

Pria ini berpikir, dirinya yang labil memang terlalu menyakitkan bagi wanita stabil ini. Dirinya yang rapuh tidak cocok bersanding dengan wanita lembut ini. Ini seperti memaksakan dua kutub magnet yang sama-sama positif untuk didekatkan. Akan selalu bertolak belakang.

Akhirnya, baik wanita itu maupun si pria, memang seharusnya mengembalikan semua itu kepada Sang Pencipta Rasa Cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar