Sabtu, 15 Agustus 2015

Takdir Jodoh

Saya pernah menceritakan ke ibu teman saya akan 2 kisah, bahwa jodoh memang misteri ilahi. Tiada yang tahu dengan siapa seseorang akan bersanding di pelaminan. Tiada yang berapa lama para pasangan suami istri bertahan dalam perkawinannya. Semuanya mutlak dalam genggaman Tuhan kita, Allah Sang Pemilik hati manusia.

Yang pertama, kisah saudara saya sendiri. Dulu, ia berpacaran dengan seorang perempuan. Dari SMA hingga kerja, 10 tahun lamanya. Jatuh bangun merajut cinta hingga memutuskan untuk menikah. Dan gagal. Karena tidak cocok. Ibu saudara saya dalam istikharahnya bermimpi, anaknya tersudut di ujung jurang.

Perkenalan demi perkenalan dilalui demi mencari pasangan hidup ideal. Hingga menemukan satu wanita yang dianggap cocok. Dikenalkan oleh saudara. Namun bau-bau materi menusuk keyakinannya. Dalam prosesi lamaran, 30 juta diserahkan. Semua direlakan untuk sebuah ketenangan batin bahwa ia akan segere menikah.

Persiapan dimulai. Undangan dibuat. 3 bulan akad menjelang timbul kabar dari teman-teman calon istrinya, ia memiliki aib yang disembunyikan. Yang secara moral tidak mungkin diterima masyarakat beradab. Batallah pernikahan. Semua biaya yang telah diserahkan terpaksa direlakan. Saya berkata, ikhlaskan saja, maka Allah akan mengganti dengan lebih baik.

Hingga akhirnya, dikenalkanlah ia oleh rekannya, akan seorang wanita, yang sekufu dengannya, memiliki background pekerjaan yang sama, nilai perjuangan yang selaras. 10 hari perkenalan, lamaran tercipta. 3 bulan kemudian, akad nikah terlaksana.

Benarlah kata pepatah, jika ia ikhlas, ia akan mendapat yang lebih baik. Istrinya benar-benar cocok dengannya. Saling melengkapi. Hingga potensi keduanya pun dapat teroptimalkan dalam karier mereka masing-masing. Dalam 3 tahun perjalanannya, kesuksesan mereka telah melampaui rekan-rekannya.

Cerita kedua, seorang pria muda, beliau dosen saya, teman wakil direktur yang sama-sama kuliah di Mesir. Tapi sepertinya saya mengurungkan niat menceritakannya di sini. Ceritanya hampir sama dengan yang saya alami.

Yang saya pikirkan adalah, mereka semua dalam tahap ujian, harus mengikhlaskan semua yang diinginkan. Bedanya dengan saya adalah mereka bisa disebut korban dari pelaku yang bertindak sewenang-wenang terhadap diri mereka. Sehingga pantas mereka mendapat yang lebih baik.

Pertanyaannya adalah, apakah hal tersebut berlaku bagi pelaku? Maksud saya, apakah mereka yang bertindak sewenang-wenang dalam masalah hati dapat mendapat jodoh yang baik? Apakah mereka yang suka menyakiti hati orang lain pantas diberi jodoh yang lebih baik? Apakah jika mereka menyesali kekeliruannya, atau merelakan seseorang yang diinginkannya karena sadar jika mereka paksakan tetap memilikinya akan berakhir tidak baik maka mereka pantas mendapat yang lebih baik?

Ah... ini self destruction yang tidak baik bagi pikiran saya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar