Jumat, 07 Agustus 2015

Tidak Apa-Apa?

"Percayakah kamu dengan ungkapan ’tidak apa-apa'-nya wanita?"

"Not at all"

"Idih, sadis sekali. Kok gitu?"

"Boro-boro perempuan, laki-laki juga hampir sama."

"Masa? Apa buktinya?"

"Diriku sendiri."

"Eh?"

"Dulu saya pernah berjanji dengan seseorang untuk hidup bersama jika ia tetap tinggal. Namun keluarganya memintanya melanjutkan studi di luar kota. Aku persilahkan."

"Tidak kamu tahan?"

"Buat apa? Ini baik untuk masa depannya. Baik untuk meningkatkan levelnya. Jika tetap bersamaku. Tidak akan ada perubahan yang berarti."

"Terus kamu bilang 'tidak apa-apa' gitu?"

"Ya. Lagipula apa hak saya untuk melarangnya, dia masih milik keluarganya. Saya santai saja untuk mengiyakan."

"Kejam sekali!"

"Iya menurutmu, setelah itu aku galau satu minggu, hahaha..."

"Eh..."

"Terlalu menyakitkan untuk berpisah itu. Yang bisa kulakukan hanya mendekam diri di dalam kamar, meringkuk di atas ranjang. Untung tidak ada yang tahu."

"Tapi sekarang tahu dong."

"Yah, mungkin. Dengan cerita ini juga sepertinya keikhlasanku hilang. Tapi saat ini aku bisa memahami rasanya orang-orang yang ditinggalkan. Aku jadi teringat lagu d'masive ketika itu."

"Widih... Jadi melankolis gitu..."

"Entahlah, rasanya ketika itu memang sepertinya aku tidak berjodoh dengannya. Semakin jauh untuk dikejar. Feeling-ku kesitu sih."

"Jadi?"

"Yah... Sudahlah, seperti kata Tere Liye, kadang rasa cinta tidak harus bersama, tidak harus memiliki, tapi bisa juga melepaskan, cukup untuk disimpan di hati."

"Sakit sekali kalau ia tahu ini."

"Iya, tidak apa. Ia kuat. Bahkan lebih kuat dariku."

"Oiya?"

"Cuma mungkin ia tidak sadar saja akan kekuatannya. Semoga aku juga bisa kuat juga. Rasanya iri melihat orang yang diuji dengan masalah-masalah besar."

"Lho kok?"

"Itu tandanya Allah percaya ia sanggup memikulnya. Itu tanda Allah sayang kepadanya."

"Begitu ya?"

"Bukankah tanda perhatian Allah kepada seorang hamba-Nya dengan memberikannya ujian?"

"Tambah sayang Allah, tambah banyak ujiannya gitu? Ga enak dong."

"Ya, dan sebanding dengan rahmat yang diberikan-Nya juga..."

Pergilah kasih kejarlah keinginanmu 
Selagi masih ada waktu
Jangan hiraukan diriku
Aku rela berpisah demi untuk dirimu
Semoga tercapai segala keinginanmu
Pergilah kasih kejarlah keinginanmu 
Selagi masih ada waktu
Jangan hiraukan diriku
Aku rela berpisah demi untuk dirimu 
Semoga tercapai segala keinginanmu

*end note: mungkin sekarang kebalikannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar