Senin, 28 September 2015

Lebih Baik Jauh

Saya kenal seorang wanita. Lahir di awal Desember, golongan darah B, berasal dari keluarga militer, ayahnya seorang tentara, tokoh masyarakat yang dihormati orang-orang sekitarnya, ibunya seorang ibu rumah tangga.

Ia rajin, cantik, cekatan dan tekun. Masakannya lezat, tidak ada yang menandingi masakannya dibanding keluarganya yang lain. Hidupnya konsisten, istiqamah. Selalu shalat malam dan puasa sunnah.
Ia terkenal jaim. Tidak mudah bergaul dengan laki-laki. Sosoknya begitu misterius bagi orang-orang sekitarnya.

Aku kurang bisa berkomunikasi dengannya. Butuh kesabaran dan bahasa yang sederhana. Belum tindak-tandukku yang spontan sangat berseberangan dengan karakternya sering membuatnya panik. Jadi sering sekali aku menyembunyikan aktifitasku, yang penting beres dan aku tetap terlihat sehat dan gembira.

Aku tidak bisa berdiskusi banyak dengannya. Jika aku didekatnya, lebih banyak diam. Percakapannya pun standar nan kaku. Jika aku meneleponnya, yang paling penting bagiku hanyalah meminta doa kebaikan untukku.

Ia begitu mencintaiku. Begitu menyayangiku. Aku pun begitu. Aku tahu, rasa cinta ini tidak bisa diungkapkan dengan kata dan perilaku, tapi bisa dirasakan di hati.

Aku ingin selalu dekat dengannya, ia pun begitu. Namun perbedaan karakter membuatku lebih baik tidak terlalu dekat dengannya. Aku tidak sabaran. Jika terlalu dekat aku lebih banyak menyakiti hatinya.

Tuhan pun sepertinya mendukungku. Takdir menunjukkan aku selalu jauh darinya. Ia melemparku ke tempat yang jauh darinya. Sehingga aku hanya bisa bertemu dengannya dalam waktu yang relatif pendek. Cukuplah untuk melepas rindu. Mengobati rasa kangen di hati.

Dari total 26 tahun umurku. Hanya 12 tahun pertama saja aku hidup dengannya. Sisanya di pondok, atau di tempat kerja.

Dulu aku sempat malu dengan statusnya yang hanya ibu rumah tangga. Dibanding teman-temanku yang ibunya wanita karir. Aku menggerutu dalam hati, aku tidak mau punya istri sepertinya.

Seiring waktu, aku sadar itu salah. Kulihat aku dan saudaraku lebih sukses emosional dari pada teman-temanku. Bibi-bibiku iri, melihat kami yang tumbuh berkembang menjadi anak-anak yang tidak bermasalah. Aku berpikir, ada hal lain yang tidak terlihat yang istimewa yang membuat kami menjadi seperti ini.

Dan itu karena jasanya, doanya lebih mustajab dari orang-orang lain. Dalam kekakuan hidupnya, pasif dan monotonnya aktifitas, yang semuanya terlihat biasa, tersimpan amalan tak terlihat yang membuat para malaikat mengaminkan doanya. Tuhan pun menuntun kami dalam jalan yang lurus.

Ia, ibuku tercinta. Seluruh pengorbanannya dalam membesarkanku dan saudara-saudaraku tidak bisa diganti apa pun. Aku berdoa, semoga ia tetap dalam lindungan Tuhan, Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar