Jumat, 02 Oktober 2015

Pagi Ini

"Sepertinya, keinginanmu untuk tidak keluar negeri kecuali pertama kali ke Mekah terkabul ya?"

Pagi ini, 2-10-15, terbangun oleh alarm jam 2 subuh. Kalimat terakhir yang diucapkan temanku dalam mimpi mengacaukan kesadaranku. Entah harus gembira, sedih, atau bagaimana. Setelah sebelum tidur aku berwudhu, membaca surat-surat pendek dan doa tidur -sesuatu yang jarang kulakukan. Pada awalnya (00.15) susah tidur, hingga akhirnya terlelap.

Dan aku tersesat -lebih tepatnya tiba-tiba berada- di Masjidil Haram! Masih mengenakan celana biru hitam yang kotor bernajis dan baju -aku lupa detailnya- dan dibalut kain ihram. Masya Allah... lautan jama'ah bergerak untuk siap-siap tawaf. Aku meminta temanku -seperti temanku B yang dari Jambi- membenarkan penggunaan kain ihramku yang salah. Para jama'ah berhenti untuk sekedar menungguku. Aku merasa tidak enak dan mempersilahkan mereka thawaf.

Satu putaran selesai mereka bergerak menuju ke tempat lain. Kini hanya ada kau dan Ka'bah di depanku. Kosong tidak ada seorang pun di sekitarku. Aku pikir Ka'bah begitu besar, nyatanya ia menjadi kecil di hadapanku. Hanya sebesar rumah saja. Aku shalat, curhat kepada Allah mengungkapkan rasa syukurku. Kututup mataku. Kupinta apakah Ka'bah bisa membesar untuk melihat keagungan-Nya. Walau akhirnya aku tetap melihatnya dalam ukuran yang sama. Aku tidak tahu mengapa. Rakaat kedua aku sadar baju yang kukenakan tidak bersir, tapi aku tetap melanjutkan shalatku sebagai rasa syukur dan ibadah kepada-Nya. Ya Allah...

Terakhir, dalam sebuah ruangan, aku diberitahu temanku -entah siapa, mungkin R tetanggaku- yang mengabarkan ada santri/jama'ah yang lengannya patah, tidur terlentang menunggu bantuan, ia seperti temanku Y dari Riau. Di saat penantian itu, aku terbangun alarm.

Apa ini? Sepertinya aku tidak akan mencari artinya dalam takwil mimpi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar