Minggu, 04 Oktober 2015

Takdir Jodoh 2

Ini tentang guru saya, sebut saja Ustadz. Dosen filsafat lulusan doktoral Al-Azhar Mesir. Ahli tentang Syi'ah. Kau tahu, studi master dan doktoral di sana paling lama dibanding lainnya. Total bisa 9 tahun lebih. Hanya orang-orang telaten yang bisa lulus.

Beliau teman guru favorit saya yang sering saya ceritakan. Ketika di Mesir, ia ditawari menikah dengan seorang perempuan solehah oleh rekan-rekannya. Ia menolak halus. Ia sudah punya calon pilihannya sendiri.

Teman-temannya tahu potensi yang dimilikinya. Mereka tak patah arang. Mereka menghadap guru mereka di tanah air, yang juga guru si Ustadz. Mereka memohon, agar perempuan pilihan mereka, yang merupakan cucu sang kyai, sudi ditawarkan kepada temannya, si Ustadz.

Akhirnya, sang guru memanggil muridnya, si Ustadz. Memintanya dengan hormat. Ia tidak dapat menolak, ini permintaan gurunya. Ia sanggupi permintaan ini. Semuanya diserahkan kepada Allah. Allah Maha Adil dan Bijaksana, Ia mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya.

Guru saya berkata, perkara jodoh bukanlah hal yang bisa dicerna logika. Kadang tidak masuk akal jalannya. Memang, adakala kisahnya tidak seindah film telenovela. Seringkali alurnya tidak sedramatis cerita sinetron.

Tidak semua yang kita inginkan, khayalkan, impikan, akan terjadi. Apalagi jika bayangan yang reka mendahului takdir Allah. Kita tahu, yang paling mengerti skenario hidup kita bukan kita sendiri, tapi Allah.

Bagusnya, ketika kita meyakini Kuasa-Nya, meyakini kebijaksanaannya, maka segala kesedihan yang kita alami -karena kenyataan yang tidak sesuai angan-angan kita- menjadi lebih mudah untuk lekas sembuh. Larut dalam aliran kepasrahan, bahwa hidup haruslah kembali kepada-Nya, kepada ketentuan-Nya, kehendak-Nya. Apapun yang terjadi, semua untuk kebaikan kita...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar